Tampilkan postingan dengan label sains & teknologi nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sains & teknologi nusantara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Mei 2017

Olimpiade Sains Nasional

Olimpiade Sains Nasional

Olimpiade Sains Nasional adalah ajang berkompetisi dalam bidang sains bagi para siswa pada jenjang SD, SMP, dan SMA di Indonesia. Siswa yang mengikuti Olimpiade Sains Nasional adalah siswa yang telah lolos seleksi tingkat kabupaten dan provinsi dan adalah siswa-siswa terbaik dari provinsinya masing-masing.
Pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional ini didasarkan pada kesuksesan Indonesia sebagai tuan rumah Olimpiade Fisika Internasional (IPhO - International Physics Olympiad) yang diselenggarakan di Bali pada tahun 2002.
Olimpiade Sains Nasional diadakan sekali dalam satu tahun di kota yang berbeda-beda. Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian seleksi untuk mendapatkan siswa-siswi terbaik dari seluruh Indonesia yang akan dibimbing lebih lanjut oleh tim bidang kompetisi masing-masing dan akan diikutsertakan pada olimpiade-olimpiade tingkat internasional.

Bidang

Seleksi

Proses atau metode seleksi Olimpiade Sains Nasional tergantung dari jumlah (kuota) peserta setiap tahunnya. Setiap tingkat memiliki jumlah peserta yang berbeda-beda tiap tahunnya. Umumnya tingkatan seleksi OSN dilaksanakan sebagai berikut:
  1. Olimpiade Sains Nasional Tingkat Kecamatan (khusus untuk SD), diseleksi peserta untuk mewakili kecamatan di tingkat kabupaten/kota. Seleksi dilakukan oleh UPT Dinas Pendidikan Kecamatan. Jumlah siswa yang dipilih untuk mewakili disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten/kota.
  2. Olimpiade Sains Nasional Tingkat Kota/Kabupaten, diseleksi peserta untuk mewakili ke tingkat provinsi. Seleksi dapat dilakukan Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten maupun Dinas Pendidikan Provinsi, umumnya dipilih 3 siswa/kabupaten (untuk seleksi yang dilakukan kota/kabupaten) atau siswa yang berjumlah 3 kali jumlah kabupaten (untuk seleksi yang dilakukan Dinas Pendidikan Provinsi).
  3. Olimpiade Sains Nasional Tingkat Provinsi, diseleksi peserta untuk mewakili ke tingkat nasional. Seleksi untuk tingkat SD dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi dan dipilih 3 siswa/mapel/provinsi untuk mewakili provinsi tersebut ke tingkat nasional. Seleksi untuk tingkat SMP dan SMA dilakukan oleh panitia pusat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memilih siswa sejumlah kuota/passing grade untuk masing-masing bidang mata pelajaran.
  4. Olimpiade Sains Nasional. OSN dilaksanakan dengan peserta menurut passing grade yang telah ditentukan oleh Kemdikbud. Di tingkat nasional ini diperebutkan 30 medali; 5 emas, 10 perak, dan 15 perunggu.

Pelaksanaan

Sebuah medali perunggu bidang komputer dari OSN XI tahun 2012 tingkat SMA di Jakarta.
Sampai saat ini Olimpiade Sains Nasional telah dilaksanakan sebanyak lima belas kali, mulai dari tahun 2002 di Yogyakarta hingga terakhir dilaksanakan tahun 2016 di Palembang. Berikut ini daftar tuan rumah Olimpiade Sains Nasional:
  1. OSN I tahun 2002 di Yogyakarta pada 10 September 2002.
  2. OSN II tahun 2003 di Balikpapan, Kalimantan Timur pada 15-19 September 2003.
  3. OSN III tahun 2004 di Pekanbaru, Riau pada 24-29 Agustus 2004.
  4. OSN IV tahun 2005 di Jakarta pada 4-9 September 2005.
  5. OSN V tahun 2006 di Semarang, Jawa Tengah pada 4-9 September 2006.
  6. OSN VI tahun 2007 di Surabaya, Jawa Timur pada 3-8 September 2007.
  7. OSN VII tahun 2008 di Makassar, Sulawesi Selatan pada 8-14 Agustus 2008.
  8. OSN VIII tahun 2009 di Jakarta pada 3-9 Agustus 2009.
  9. OSN IX tahun 2010 di Medan, Sumatera Utara pada 1-7 Agustus 2010.
  10. OSN X tahun 2011 di Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 15-20 Juli 2011 untuk tingkat SMP dan tanggal 11-16 September 2011 untuk tingkat SD dan SMA.
  11. OSN XI tahun 2012
  12. OSN XII tahun 2013
  13. OSN XIII tahun 2014
  14. OSN XIV tahun 2015
  15. OSN XV tahun 2016
  16. OSN XVI tahun 2017
    • untuk tingkat Semua Jenjang (SD, SMP, dan SMA) diadakan di Pekanbaru, Riau pada 02-08 Juli 2017.
    • untuk tingkat SMA diadakan di Pekanbaru, Riau pada 20-26 Agustus 2017.
  17. OSN XXVI tahun 2018

Juara umum

Hingga saat ini hanya ada 2 provinsi yang pernah menjadi juara umum Olimpiade Sains Nasional.
Provinsi Tahun juara
Lambang Provinsi Jawa Tengah Jawa Tengah 2002, 2003, 2006, 2007, 2008,[6] 2011, 2012,,[7][8] 2013,[9]2015[10],2016
Lambang Provinsi DKI Jakarta Jakarta 2004, 2005, 2009, 2010, 2014,

Tim Olimpiade Indonesia

Tim Olimpiade Indonesia
Tim Olimpiade Indonesia saat ini terdiri dari 8 Bidang yaitu:
  1. Tim Olimpiade Matematika Indonesia (TOMI) yang mewakili Indonesia ke ajang IMO.
  2. Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) yang mewakili Indonesia ke ajang IPhO.
  3. Tim Olimpiade Kimia Indonesia (TOKIM) yang mewakili Indonesia ke ajang IChO.
  4. Tim Olimpiade Biologi Indonesia (TOBI) yang mewakili Indonesia ke ajang IBO.
  5. Tim Olimpiade Astronomi dan Astrofisika Indonesia (TOASTI) yang mewakili Indonesia ke ajang IOAA.
  6. Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI) yang mewakili Indonesia ke ajang IOI.
  7. Tim Olimpiade Ilmu Kebumian Indonesia (TOIKI) yang mewakili Indonesia ke ajang IESO.
  8. Tim Olimpiade Geografi Indonesia (TOGI) yang mewakili Indonesia ke ajang IGeO.
Tim Olimpiade ini menjadi wakil Indonesia di Olimpiade Sains Internasional dan dipilih melalui Pelatnas (Pelatihan Nasional) dengan berbagai tahap sesuai masing-masing tim Olimpiade. Peraih medali pada Olimpiade Sains Nasional jenjang SMA diundang mengikuti Pelatnas untuk diseleksi menjadi Tim Olimpiade Indonesia sesuai bidangnya pada OSN. Khusus untuk OSN Ekonomi tidak membentuk Tim Olimpiade dikarenakan tidak ada pelaksanaan Olimpiade Ekonomi Internasional.
Sedangkan sebagai lanjutan OSN jenjang SMP, untuk pemenang bidang IPA akan dipersiapkan mengikuti IJSO (International Junior Science Olympiad) dan untuk bidang IPS dipersiapkan mengikuti IAO (International Astronomy Olympiad) dan NGWC (National Geographics World Competition).

olimpiade sains

Olimpiade Sains Internasional

Olimpiade sains internasional (Inggris: International Science Olympiads/ISO) adalah sekelompok kompetisi tingkat dunia yang diselenggarakan tiap tahun di berbagai cabang sains. Kompetisi-kompetisi ini dirancang untuk 4-6 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) terbaik dari setiap negara yang berpartisipasi, yang diseleksi lewat Olimpiade Sains Nasional masing-masing negara, kecuali ILO, yang mengizinkan dua tim per negera, dan IJSO, yang dirancang untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hingga saat ini terdapat 12 ISO, di antaranya:

Sains dan Teknologi di Indonesia

Seperti banyak negara berkembang lainnya, Indonesia belum dianggap sebagai negara yang terkemuka di dunia dalam perkembangan sains dan teknologi. Namun, sepanjang sejarahnya, ada prestasi penting, dan kontribusi yang dibuat oleh Indonesia untuk sains, dan teknologi. Saat ini, Kementerian Penelitian dan Teknologi adalah badan resmi yang bertanggung jawab atas sains, dan pengembangan teknologi di negara ini. Pada tahun 2010, pemerintah Indonesia telah mengalokasikan dana Rp. 1,9 triliun (sekitar $205 juta) atau kurang dari 1 persen dari total anggaran belanja negara untuk penelitian, dan pengembangan.[1]

Daftar isi

Sejarah

Gambaran sebuah Kapal Pinisi zaman dahulu.
Hidup dalam budaya agraris, dan maritim, orang-orang di kepulauan Indonesia telah terkenal di beberapa teknologi tradisional, khususnya di bidang pertanian dan kelautan. Di bidang pertanian, misalnya, orang-orang di Indonesia, dan juga di banyak negara Asia Tenggara lainnya, terkenal dalam teknik budidaya padi yaitu terasering. Suku Bugis dan Suku Makassar adalah orang Pribumi-Nusantara di Indonesia yang juga dikenal dengan teknologi mereka dalam membuat kapal layar kayu yang disebut Pinisi.[2] Candi Borobudur dan candi lainnya juga mencatat penguasaan orang Indonesia dalam teknologi arsitektur, dan teknologi konstruksi.

Teknologi konstruksi

Ada beberapa perkembangan teknologi penting yang dibuat oleh Indonesia di era Indonesia modern (pasca kemerdekaan). Pada tahun 80-an seorang insinyur Indonesia asal Bali, Tjokorda Raka Sukawati menemukan teknik konstruksi jalan yang dinamai Teknik Sosrobahu, yang menjadi terkenal setelah itu, dan banyak digunakan oleh banyak negara. Teknologi ini telah diekspor ke Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapura dan pada tahun 1995, hak paten diberikan kepada Indonesia.[3]

Teknologi kedirgantaraan

Pesawat CN-235 milik Badan SAR Spanyol, hasil kerjasama IPTN dan CASA.
Dalam teknologi kedirgantaraan, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan pesawat komuter militer, dan kecil; sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara untuk memproduksi, dan mengembangkan pesawat sendiri, juga memproduksi komponen pesawat untuk Boeing dan Airbus, dengan perusahaan pesawat milik negara bernama Industri Pesawat Terbang Nurtanio atau IPTN (didirikan pada 1976) yang sekarang bernama PT. Dirgantara Indonesia, yang, dengan perusahaan EADS CASA dari Spanyol mengembangkan pesawat CN-235, yang telah diekspor ke berbagai negara. Bacharuddin Jusuf Habibie yang juga mantan presiden Indonesia, memainkan peran penting dalam pencapaian ini. Saat aktif sebagai profesor di Jerman, Habibie melakukan banyak tugas penelitian, menghasilkan teori tentang termodinamika, konstruksi, dan aerodinamika, yang masing-masing dikenal sebagai Faktor Habibie, Teorema Habibie, dan Metode Habibie.[4] Indonesia juga berharap untuk memproduksi pesawat tempur Korea Selatan KAI KF-X.[5]
Wiweko Soepono, mantan direktur Garuda Indonesia, juga dikenal sebagai penemu desain kokpit modern dua-manusia ("Forward Facing Crew Cockpit" atau "FFCC") untuk pesawat Airbus A300 Garuda Indonesia.[6]

Teknologi transportasi

Indonesia memiliki industri kereta api dan transportasi rel yang mapan, dengan perusahaan produsen kereta milik negara, PT. Industri Kereta Api, yang terletak di Madiun, Jawa Timur. Sejak 1982, perusahaan ini telah memproduksi gerbong kereta penumpang, gerbong barang, dan teknologi kereta api lainnya, dan mengekspornya ke berbagai negara, seperti Malaysia dan Bangladesh.[7]

Teknologi informasi dan komunikasi

Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang saat era 1970-an memiliki satelit komunikasi mereka sendiri. Sejak tahun 1976, serangkaian satelit bernama "Palapa" dibangun, dan diluncurkan di Amerika Serikat untuk perusahaan telekomunikasi milik negara di Indonesia, Indosat.
Dalam teknologi internet, seorang ilmuwan teknologi informasi Indonesia, Onno Widodo Purbo telah mengembangkan RT/RW-net, infrastruktur internet berbasis masyarakat yang memungkinkan tersedianya akses internet yang terjangkau bagi masyarakat di daerah pedesaan.[8]

Teknologi robotika

Para pelajar Indonesia juga memiliki catatan yang baik dalam memenangkan banyak kompetisi internasional di bidang sains, dan teknologi. Pada tahun 2010, tim robot dari Universitas Komputer Indonesia berhasil mempertahankan gelar mereka dengan memenangkan medali emas di ajang Robogames di San Francisco, Amerika Serikat setelah mereka meraih penghargaan yang sama pada tahun 2009.[9] Dua tahun sebelumnya, pada tahun 2008, tim robotika lain dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember memenangkan tempat ketiga dalam kontes robot Asia Pacific Broadcast Union (ABU) Robocon 2008 di Pune, India.[10]

Tokoh sains dan teknologi