1. Balaputradewa
Balaputradewa adalah salah satu tokoh dalam sejarah nusantara yang
berpengaruh. Pengaruhnya tidak hanya di wilayah Asia bagian tenggara
saja, melainkan hingga ke Daratan India. Ia adalah seorang raja yang
telah memberikan sebuah gambaran tentang politik dan diplomasi
internasional, sehingga mampu mengantarkan kerajaan yang ia pimpin
menjadi besar dan dikenal di beberapa peradaban besar pada zamannya.
Dikutip dari wacananusantara.org, Prasasti Nalanda menyatakan bahwa
Maharaja Balaputradewa ialah raja Suwarnadwipa. Prasasti tersebut tidak
menyebut bahwa Balaputradewa ialah raja Sriwijaya. Anggapan bahwa
Balaputradewa itu raja Sriwijaya ialah akibat penyamarataan Suwarnadwipa
dengan Sriwijaya di satu pihak dan penyamarataan San-fo-tsi dengan
Shih-li-fo-shih di lain pihak. Maka tidak heran jika Balaputradewa
sering dihubungkan dengan kerajaan Sriwijaya.
2. Ranggalawe
Dia dikenal sebagai orang yang memimpin pemberontakan di Majapahit
pada tahun 1295 atau 720 tahun yang lalu. Menurut History Area,
Ranggalawe pada dasarnya adalah seorang pahlawan namun mati menjadi
seorang pemberontak. Ranggalawe melakukan pemberontakan karena
menganggap bahwa keputusan Raja saat itu (Raden Wijaya) untuk mengangkat
Nambi menjadi Patih Amangkubumi bukanlah keputusan yang tepat….
Menurut Ranggalawe seorang Patih Amangkubumi adalah seorang yang
teramat berjasa di berbagai pertempuran dan sangat pemberani namun
Ranggalawe tiak melihat hal tersebut pada Nambi. Akhirnya berkat
tipudaya oleh Mahapati yang licik yang menuduh Ranggalawe melakukan
pemberontakan, maka Raja memutuskan untuk menyerang Ranggalawe.
Pertempuranpun tak terkelakkan. Ranggalawe pun mati dalam pertempuran
terbunuh oleh Kebo Anabrang.
3. Gajah Mada
Dia adalah Maha Patih paling sukses dalam sejarah Indonesia. Gajah
Mada yang berperawakan gempal ini, adalah orang yang berjasa menyatukan
nusantara yang wilayahnya jauh lebih luas dari Indonesia sekarang. Dia
pulalah yang terkenal dengan Sumpah Palapa, yang ditemukan pada Kitab
Pararaton. Sumpah Palapa tersebut berbunyi: “Dia Gajah Mada Patih
Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah
mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika
mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali,
Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan
puasa.”
Dikutip dari www.majapahit1478.blogspot.com, Gajah Mada meninggal
pada 1364 M, dan membuat Majapahit berkabung. Bahkan Raja Majapahit saat
itu, Hayam Wuruk berputus asa dan sangat berduka.
4. Prabu Siliwangi
Raja Pajajaran ini terkenal gagah perkasa! Konon beliau memiliki
banyak ilmu termasuk membelah diri. Menurut pusakaprabusiliwangi.com,
Prabu Siliwangi pernah mengalahkan Raja Macan Putih dalam sebuah
pertempuran di Majalengka. Sejak saat itu, Raja Macah Putih diangkatnya
sebagai panglima perang yang berasal dari dimensi lain.
5. Jayabaya
Jayabaya adalah raja dari Kerajaan Kediri yang terkenal dengan
ramalannya. Diantara ramalan Jayabaya yang paling terkenal adalah
mengenai pemimpin (presiden) Indonesia dengan inisial nama
No-To-No-Go-Ro. Dikutip dari benderahitam2.wordpress.com, ramalan
Jayabaya cukup fenomenal dan mirip dengan yang sudah terjadi, misalnya:
1. Datangnya bangsa berkulit pucat yang membawa tongkat yang bisa
membunuh dari jauh dan bangsa berkulit kuning dari Utara (jaman
penjajahan ).
2. “kreto mlaku tampo jaran”, “Prau mlaku ing nduwur awang-awang”, kereta tanpa kuda dan perahu yang berlayar di atas awan.
3. Datangnya jaman penuh bencana di Nusantara (Lindu ping pitu
sedino, lemah bengkah, Pagebluk rupo-rupo, gempa 7 kali sehari, tanah
pecah merekah, bencana macam-macam.
4. Dan ia bahkan (mungkin) juga meramalkan global warming, “Akeh udan salah mongso”, datangnya masa dimana hujan salah musim.
Jayabaya memerintah Kediri sekitar tahun 1135-1157 dengan gelar Sri
Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana
Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.
6. Raden Wijaya
Raden Wijaya adalah pendiri kerajaan Majapahit dan memerintah
kerajaan terbesar yang pernah ada di nusantara itu dari 1293-1309.
Menurut singosari.info, masa pemerintahan Raden Wijaya ditandai dengan
banyak pemberontakan termasuk yang dilakukan oleh Lembu Sora dan Nambi.
Meski demikian Raden Wijaya adalah seorang raja yang cerdik. Untuk
memperkuat posisi politiknya, beliau menikahi empat putri Kertanegara
(Raja Singasari), yaitu Shri Parameshwari Dyah Dewi Tribhuwaneshwari,
Shri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Shri Jayendradewi Dyah Dewi
Prajnaparamita and Shri Rajendradewi Dyah Dewi Gayatri.
7. Ken Arok
Yang ini bisa disebut sebagai cowok jagoan di jamannya. Banyak
alasannya salah satunya adalah ia merebut Ken Dedes dari tangan Tunggul
Ametung, setelah membunuhnya terlebih dahulu. Dikutip dari
www.ksatria2610.wordpress.com, Ken Dedes sebenarnya adalah saksi
pembunuhan suaminya sendiri, dan hal ini menimbulkan dugaan kalau antara
Ken Arok dan Ken Dedes memang sudah saling cinta sebelumnya.
Setelah merebut Ken Dedes, Ken Arok yang lahir di Jawa Timur tahun
1182 ini, mendirikan kerajaan Tumapel yang kelak dikenal sebagai
Singasari.
Tampilkan postingan dengan label pahlawan nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pahlawan nusantara. Tampilkan semua postingan
Selasa, 16 Mei 2017
10 pahlawan wanita perkasa
Perempuan
millenium Indonesia masih berjuang menegakkan kesamaan haknya – yang
terinspirasi oleh “gerutuan” R.A. Kartini. Namun, 7 abad lalu perempuan
Aceh telah menikmati hak-haknya sebagai manusia yang setara tanpa
perdebatan. Barangkali selama ini yang kita kenal pahlawan perempuan
dari Aceh mugkin hanya Cut Nyak Dien saja. Hal ini dapat dipahami karena
perjuangan heroiknya melawan Balanda sudah difilmkan, dimana pemeran
sebagai Cut Nyak Dhien adalah Christine Hakim.
Akan
tetapi sebenarnya Cut Nyak Dhien hanyalah satu dari sekian banyak
perempuan Aceh yang memiliki kehebatan yang luar biasa di Aceh. Dan itu
sudah ada jauh sebelum isu emansipasi dikembangkan. Sebab peran mereka
melebihi peran para laki-laki pada saat itu.
Di
Matangkuli, Kecamatan Minye Tujoh, Aceh Utara, terdapat sebuah makam
kuno yang pada nisannya bertuliskan Arab dan Jawa Kuno. Dituliskan di
nisan itu, orang yang dimakamkan adalah Ratu Ilah Nur yang meninggal
tahun 1365. Siapa Ilah Nur ? Ilah Nur adalah seorang Ratu yang
memerintah Kerajaan Pasai. Keterangan itu juga dapat diperoleh di kitab
Negara Kartagama tulisan Prapanca. Disebutkan, Samudera Pasai merupakan
daerah yang ditaklukkan oleh Hayam Wuruk, dengan Patihnya Gajah Mada.
Buku Hikayat Raja Raja Pasai juga menyebutkan tentang kekuasaan
Majapahit terhadap Pasai. Setelah segala sesuatunya diatur di Pasai,
laskar Majapahit kembali ke Jawa. Namun, sebelum kembali,
pembesar-pembesar Majapahit mengangkat seorang Raja, yaitu Ratu Nur
Ilah. Ratu Nur Ilah merupakan keturunan Sultan Malikuzzahir. Tidak
banyak keterangan yang didapatkan oleh peneliti tentang masa
pemerintahan Ratu Ilah Nur ini.
Perempuan
Aceh memang luar biasa. Mereka mampu mensejajarkan diri dengan kaum
pria. Bahkan, pekerjaan peperangan pun, yang biasanya seluruhnya
dilakukan oleh kaum pria, diterjuninya pula. Mereka menjadi panglima,
memimpin ribuan laskar di hutan dan di gunung-gunung. Bahkan ada laskar
wanita yang disebut Inong Bale. Mereka ini para janda yang menuntut
kematian suaminya. Para perempuan Aceh berani meminta cerai dari
suaminya bila suaminya berpaling muka kepada Belanda. Kaum pria Aceh pun
bersikap sportif. Mereka dengan lapang hati memberikan sebuah jabatan
tertinggi dan rela pula menjadi anak buahnya. Diantaranya mereka yang
amat dikenal bahkan melegenda, seperti Cut Nyak Dhien, Laksamana
Kumalahayati, dan sebagainya.
Beberapa
periode, Kerajaan Aceh Besar yang berdaulat, pernah dipimpin oleh
perempuan. Selain Ratu Nur diatas, ada Sultanah Safiatuddin Syah, Ratu
Inayat Zakiatuddin Syah, Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah dan Ratu
Nahrasiyah. Sementara yang terjun ke medan pertempuran, ada Laksamana
Malahayati, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Pocut Baren dan Pocut Meurah
Intan. Ada pula yang menjadi uleebalang (penguasa lokal). Diantara
panglima-panglima tersebut, yang banyak disebut-sebut oleh pendatang
Barat adalah Laksamana Malahayati. Mereka ini oleh peneliti barat
disejajarkan dengan Semiramis, Permaisuri Raja Babilon dan Katherina II
Kaisar Rusia.
1. Ratu Nahrasiyah
Dr. C.
Snouck Hurgronje terkagum-kagum menyaksikan sebuah makam yang demikian
indah di situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai di Aceh Utara. Makam
yang terbuat dari pualam itu, merupakan makam yang terindah di Asia
Tenggara. Makam yang dihiasai dengan ayat – ayat Quran tersebut, adalah
makam seorang raja perempuan bernama Nahrasiyah. Ratu tersebut tentu
seorang raja yang besar, terbukti dari hiasan makamnya yang sangat
istimewa. Ratu merupakan putri Sultan Zain al-Abidin. Sayang, sedikit
sekali sumber sejarah tentang dirinya – yang memerintah lebih dari 20
tahun. Kerajaan Samudera Pasai senantiasa mengeluarkan mata uang emas.
Namun, kepunyaan Ratu sampai saat ini belum ditemukan. Sementara itu,
dirham ayahnya ditemukan – dimana disisi depan mata uang tersebut
tercantum “Zainal Abidin Malik az-Zahir”.
Nama
Sultan Zain al-Abidin dalam berita–berita Tiongkok dikenal dengan
Tsai-nu-li-a-ting-ki. Kronika Dinasti Ming (1368-1643) menyebutkan, Raja
ini mengirimkan utusan-utusannya yang ditemani oleh sida-sida China,
Yin Ching kepada mahararaja China, Ch’engtsu (1403-1424). Maharaja China
kemudian mengeluarkan dekrit pengangkatannya sebagai Raja Samudera dan
memberikan sebuah cap kerajaan dan pakaian kerajaan. Pada tahun 1415
Laksamana Cheng Ho dengan armadanya datang mengunjungi Kerajaan
Samudera. Diceritakan, Sekandar, kemanakan suami kedua Ratu, bersama
pengikutnya, merampok Cheng Ho. Serdadu–serdadu China dan Ratu Kerajaan
Samudera dapat mengalahkan Sekandar. Ia ditanggap lalu dibawa ke
Tiongkok untuk dijatuhi hukuman mati. Ratu yang dimaksud dalam berita
China itu tidak lain adalah Ratu Nahrasiyah.
2. Sultanah Safiatuddin Syah (1641-1675)
Bersyukur
bahwa catatan tentang Sultanah Safiatuddin Syah cukup banyak sehingga
dapat memberikan gambaran yang memadai mengenai kepemimpinannya. Aceh
Darussalam merupakan sebuah kerajaan yang berdaulat. Syafiatuddin Syah
yang lahir tahun 1612, anak tertua Sultan Iskandar Muda. Puteri
Syafiatuddin tumbuh menjadi gadis yang rupawan, cerdas dan
berpengetahuan. Setelah dewasa, dia dinikahkan oleh ayahnya dengan
Iskandar Thani, putera Sultan Pahang yang dibawa ke Aceh setelah
dikalahkan oleh Sultan Iskandar Muda. Tahun 1636, Sultan Iskandar Muda
meninggal. Menantunya lalu diangkat menjadi Sultan Aceh. Lima tahun
memerintah, ia meninggal (15 Ferbruari 1642) tanpa memberikan keturunan.
Tiga hari setelah berkabung, para pembesar kerajaan sepakat mengangkat
sang permaisuri menjadi raja. Namun, menjelang penobatannya, muncul
pertentangan. Ada dua alasan. Pertama Sultan Iskandar Thani tidak
berputra dan kedua, soal kelayakan perempuan menjadi raja. Persoalan
tersebut diserahkan kepada ulama senior yang sangat berpengaruh saat
itu, yaitu Tengku Abdurrauf dari Singkil. Ia menyarankan pemisahan
urusan agama dengan urusan pemerintahan. Dari sudut adat dan hukum
Islam, Syafiatuddin memenuhi sarat sebagai pemimpin. Selain itu,
Syafiatuddin memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang cukup. Para ulama
juga mengeluarkan fatwa, bahwa urusan agama dan negara harus dipisahkan
sepanjang keduanya tidak saling bertentangan.
Sultanah
Safiatuddin Syah memerintah selama 35 tahun (1641- 1675). Inilah
masa-masa yang paling sulit karena situasi Malaka saat itu sedang panas
dengan adanya perseteruan VOC dengan Potugis merebut pengaruh sehingga
sang ratu tidak bisa terhindar darinya karena Aceh merupakan pusat
dagang utama. Sultanah sangat memperhatikan pengendalian pemerintahan,
pendidikan, keagamaan dan perekonomian. Namun, agak mengabaikan soal
kemeliteran. Pada tahun 1668, misalnya, ia mengutus ulama-ulama Aceh ke
negeri Siam untuk menyebarkan agama Islam. Sebagaimana ayahnya, ia pun
sangat mendorong para ulama dan cerdik pandai mengembangkan ilmu
pengetahuan dengan mensponsori penulisan buku-buku ilmu pengetahuan dan
keagamaan. Dalam ekonomi, ia menerbitkan mata uang emas dan menerapkan
cukai bagi pedagang asing yang berdagang di Aceh. Dalam urusan
kenegaraan, ia membentuk dua lembaga pemerintahan, yaitu Balai Laksamana
(Angkatan Perang yang dikepalai oleh seorang Laksamana) dan Balai
Fardah (Lembaga yang mengatur keuangan kerajaan seperti pemugutan cukai
dan mengeluarkan mata uang).
Selain
itu, Sultanah membentuk lembaga tempat bermusyawarah, yaitu Balai
Rungsari (institusi yang terdiri empat uleebalang besar Aceh), Balai
Gadeng (beranggotakan 22 ulama besar Aceh), Balai Mejelis Mahkamah
Rakyat (semacam DPR yang beranggotakan 73 orang yang mewakili daerah
pemukiman). Yang menarik adalah, diantara 73 anggota dewan tersebut,
terdapat sejumlah wanita. Ia adalah seorang raja besar yang sangat
dihormati oleh rakyatnya dan disegani oleh negara asing (Belanda,
Portugis, Inggris, India dan Arab). Ia meninggal 23 Oktober 1675. Oleh
penurusnya, Sultanah Safiatuddin Syah tetap dihormati dengan
mencantumkan namanya Sultanah pada setempel / segel kerajaan.
Selanjutnya, kerajaan diperintah oleh Naqiatuddin dengan gelar Sri
Sultan Nurul-Alam Naqiatuddin Syah.
3. Ratu Inayat Zakiatuddin Syah
Naqiatuddin
Syah meninggal, digantikan oleh Inayat Zakiatuddin Syah. Menurut orang
Inggris yang mengunjunginya tahun 1684, usianya ketika itu sekitar 40
tahun. Ia digambarkan sebagai orang bertubuh tegap dan suaranya lantang.
Pada masa pemeritahannya, Aceh mendapatkan kunjungan dari Inggris yang
hendak membangun sebuah benteng pertahanan guna melindungi kepentingan
dagangnya. Ratu menolaknya dengan mengatakan, Inggris boleh berdagang,
tetapi tidak dizinkan mempunyai benteng sendiri. Tentu Ratu tahu apa
maksud dari benteng yang dipersenjatai itu. Tamu lainnya adalah
kedatangan utusan dari Mekkah. Tamu tersebut bernama El. Hajj Yusuf E.
Qodri yang diutus oleh Raja Syarif Barakat yang datang tahun 1683. Dari
utusan tersebut Ratu menerima sejumlah hadiah. Sekembali ke Mekkah,
utusan melaporkan kepada Raja Syarif betapa baik dan sempurnanya
pemerintahan Ratu Kerajaan Aceh yang rakyatnya taat memeluk Islam. Sama
halnya dengan dua ratu sebelumnya, Zakiatuddin Syah mengeluarkan mata
uang sendiri. Ratu meninggal 3 Oktober 1688 lalu digantikan oleh Kamalat
Zainatuddin Syah.
4. Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah
Sultanah
Naqiatuddin adalah puteri Malik Radiat Syah. Hal penting dan funamental
yang dilakukan oleh Naqiatuddin pada masa pemerintahannya adalah
melukakan perubahan terhadap Undang Undang Dasar Kerajaan Aceh dan Adat
Meukuta Alam. Aceh dibentuk menjadi tiga federasi yang disebut Tiga Sagi
(lhee sagoe). Pemimpin Sagi disebut Panglima Sagi. Maksud dari
pemerintahan macam ini agar birokrasi tersentralisasi dengan –
menyerahkan urusan pemerintahan dalam kenegarian-kenegarian yang terbagi
Tiga Sagi itu. Namun, setiap Sagi tidak berarti melakukan pemerintahan
sendiri-sendiri. Untuk situasi sekarang, sistim pemerintahan Kerajaan
Aceh dulu sama dengan otonomi daerah. Sultanah juga menyempurnakan Adat
Meukuta Alam yang dulu dirancang oleh Sultan Iskandar Muda. Hal lain
yang dilakuakan oleh Sultanah adalah mengeluarkan mata uang emas. Masa
pemerintahannya yang singkat (1675-1678), memang tidak ada prestasi
besar yang dicapainya. Bebarapa peristiwa besar dialaminya, terbakarnya
Mesjid Raya Baiturrahman dan Istana yang banyak menyimpan kekayaan emas
dan perhiasan.
5. Ratu Kamalat Zainatuddin Syah
Silsilah
ratu ini tidak banyak diketahui. Ada dua versi tentang asal usulnya.
Perkiraan pertama ia anak angkat Ratu Sultanah Safiatuddin Syah dan lain
pihak mengatakan ia adik Ratu Zakiatuddin Syah. Yang jelas, Ratu
Zakiatuddin Syah berasal dari keluarga-keluarga Sultan Aceh juga.
Pada
masa Kamalat Syah bertahta, para pembesar kerajaan terpecah dalam dua
pendirian. Golongan orang kaya bersatu dengan golongan agama
menginginkan kaum pria kembali menjadi Sultan. Kelompok yang tetap
menginginkan wanita menjadi raja adalah Panglima Sagi. Perbedaan
pendapat itu sebetulnya bukan sesuatu yang baru dan pernah menimbulkan
kontak senjata. Namun, kemudian kedudukan Kamalat Syah tidak dapat lagi
dipertahankan setelah para ulama meminta pendapat dari Qadhi Malikul
Adil dari Mekkah. Dalam surat balasannya, Malikul Adil menyatakan bahwa
kedudukan wanita sebagai raja bertentangan dengan syariat Islam. Ia
turun tahta pada bulan Oktober 1699. Pada masa pemerintahannya, ia
mendapatkan kunjugan dari Persatuan Dagang Perancis dan serikat dagang
Inggris East Indian Company. Ia sempat pula mengeluarkan mata uang emas
6. Laksamana Malahayati atau “Keumalahayati”
Wanita
Aceh yang satu ini bukanlah pendekar komik dari negeri antah barantah.
Ia benar-benar ada. Keumalahayati namanya. Ia seorang Laksamana
(Panglima Perang) Kerajaan Aceh. Malahayati merupakan figur yang banyak
muncul dalam cacatan penulis asing dan bangsa Indonesia sendiri.
Malahayati menjadi Panglima Angkatan Perang kerajaan Aceh pada masa
pemerintahan Sultan Al Mukammil (1589-1604). Ia mendapat kepercayaan
menjadi orang nomor satu dalam militer dari sultan karena
keberhasilannya memimpin pasukan wanita. Ia berasal dari keturunan
sultan. Ayahnya, Mahmud Syah, seorang laksamana. Kakeknya dari garis
ayahnya, juga seorang laksamana bernama Muhammad Said Syah, putra Sultan
Salahuddin Syah yang memerintah tahun 1530-1539. Sultan Salahhuddin
sendiri putera Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530) pendiri
kerajaan Aceh Darussalam. Dilihat dari asal keturunannya, darah meliter
berasal dari kakeknya. Pembentukan pasukan wanita yang semuanya janda
yang disebut Armada Inong Bale itu merupakan ide Malahayati. Maksud dari
pembentukan pasukan wanita tersebut, agar para janda tersebut dapat
menuntut balas kematian suaminya. Pasukan ini mempunyai benteng
pertahahanan. Sisa–sisa pangkalan Bale Inong masih ada di Teluk Kreung
Raya.
John
Davis, seorang berkebangsaan Inggris, nahkoda kapal Belanda yang
mengunjungi Kerajaan Aceh pada masa Malahayati menjadi laksamana,
melaporkan, Kerajaan Aceh pada masa itu mempunyai perlengkapan armada
laut terdiri dari 100 buah kapal perang, diantaranya ada yang
berkapasitas 400-500 penumpang. Ketika itu Kerajaan Aceh memiliki
angkatan perang yang kuat. Selain memiliki armada laut, di darat ada
pasukan gajah. Kapal-kapal tersebut bahkan juga ditempatkan di berbagai
tempat kekuasaan Aceh. Kekuatan Keumalahayati mendapat ujian ketika
terjadi kontak senjata antara Aceh dengan pihak Belanda. Pada tanggal 21
Juni 1599, dua kapal Belanda yang dipimpin dua bersaudara Coernelis de
Houtman dan Federick de Houtman berlabuh dengan tenang di Aceh. Karena
mendapat hasutan dari Portugis, Laksamana Malahayati menyerang kedua
kapal tersebut. Dalam penyerangan itu, Cornelis de Houtman dan beberapa
anak buahnya terbunuh. Sedangkan Federick de Houtman ditawan dan
dijebloskan ke tahanan Kerajaan Aceh. Sesuatu yang menggegerkan bangsa
Eropa dan terutama Belanda – sekaligus menunjukkan kewibawaan Laksamana
Keumalahayati ketika Mahkamah Amstredam menjatuhkan hukuman denda kepada
van Caerden sebesar 50.000 gulden yang harus dibayarkan kepada Aceh.
Uang
sejumlah itu benar-benar dibayarkan kepada yang berhak. Bayar denda
tersebut adalah buntut tindakan Paulus van Caerden ketika datang ke Aceh
menggunakan dua kapal menenggelamkan kapal dagang Aceh serta merampas
muatan lada lalu pergi meninggalkan Aceh. Peristiwa penting lainnya
selama Malahayati menjadi Laksama adalah ketika ia mengirim tiga utusan
ke Belanda, yaitu Abdoelhamid, Sri Muhammad dan Mir Hasan ke Belanda.
Ketiganya merupakan duta-duta pertama dari sebuah kerajaan di Asia yang
mengunjungi negeri Belanda. Banyak cacatan orang asing tentang
Malahayati. Kehebatannya memimpin sebuah angkatan perang ketika itu
diakui oleh negara Eropa, Arab, China dan India. Namanya sekarang
melekat pada kapal perang RI, KRI Malahayati.
7. Cut Nyak Dien
Nama
Cut Nyak Dien bagai sebuah legenda. Setelah suaminya, Teuku Umar
meninggal, ia memilih melanjutkan perjuangan bersenjata dengan pilihan :
hidup atau mati di hutan belantara daripada menyerah kepada Belanda. Ia
membiarkan dirinya menderita dan lapar di hutan sambil terus dibayangi
oleh pasukan marsose Belanda yang mengejarnya. Adakalanya ia
berminggu-minggu tidak menjumpai sesuappun nasi, makan apa saja ditemui
di hutan. Ia melakukan itu selama 6 tahun. Ketika itu ia sudah tua dan
matanya rabun. Bila mau, dia bisa menghindari kehidupan seperti itu.
Hanya orang yang luar biasa yang menjalaninya. Bagaimana tidak. Ia
tumbuh sebagai anak yang manja. Sebagai anak uleebalang, ia setaraf
dengan wanita bangsawan lainnya. Ia lahir tahun 1848. Ayahnya, Teuku
Nanta Setia, seorang uleebalang. Ibunya juga keturunan bangsawan.
Sebagai lazimmnya anak bangsawan, Cut Nyak Dien mendapatkan pendidikan
yang baik, terutama pendidikan agama dan pengetahuan tentang
rumahtangga. Setelah dewasa, ia dijodohkan dengan Teuku Ibrahim. Dari
pernikahannya itu, ia memperoleh seorang anak laki-laki. Ia mendukung
sepenuhnya apa yang dilakukan oleh suaminya di medan peperangan. Bahkan,
Cut Nyak Dien aktif di garis depan. Akibatnya ia jarang berkumpul
dengan suami dan anaknya.
Karena
Belanda lebih unggul soal persenjataan dan pengkhianatan yang dilakukan
oleh orang Aceh sendiri, lama-lama daerah kekuasaan Aceh semakin banyak
jatuh ke tangan Belanda – termasuk daerah yang dikuasai Cut Nyak Dien.
Cut Nyak Dien dan keluarganya terpaksa mengungsi. Pada tanggal 28 Juni
1878, Teuku Ibrahim dan pengikutnya gugur dalam pertempuran. Cut Nyak
Dien menjadi janda muda, namun tetap cantik. Kebencian Cut Nyak Dien
terhadap Belanda makin membara. Lalu terucaplah janjinya, lelaki yang
dapat membalas kematian suaminya, akan diterimanya sebagai suami.
Seorang lelaki pejuang, Teuku Umar akhirnya menebus kematian suaminya.
Sebagaimana janjinya, maka ia menikah dengan Teuku Umar. Bersama Cut
Nyak Dien, Teuku Umar memarakkan lagi peperangan melawan Belanda. Cut
Nyak Dien dengan pengikutnya melakukan perang gerilya. Dari
pernikahannya dengan Teuku Umar, ia mendapat seorang anak yang diberi
nama Cut Gambang. Kemudian anaknya dinikahkan dengan Teuku Di Buket,
anak lelaki Teuku Cik Di Tiro. Pada 11 Februari 1899, Teuku Umar tewas
dalam pertempuran. Cut Nyak Dien kembali menjadi janda. Peperangan ia
teruskan seorang diri.
“…
selama aku masih hidup, masih berdaya, perang suci melawan kafir ini
kuteruskan …” bagian sumpah Cut Nyak Dien sepeninggal suaminya. Ia
memimpin peperangan dari persembunyianya di gunung-gunung.
Kehidupan
Cut Nyak Dien amat sengsara. Ia tidak memiliki apa–apa lagi kecuali
semangat pantang menyerah. Ia pun ditinggalkan banyak pengikutnya.
Mungkin karena tidak tega melihat penderitaan Cut Nyak Dien, Pang Laot
Ali, selaku panglimanya mulai berpikir menyerah sebagai jalan
membebaskan Cut Nyak Dien dari penderitaan. “Takluk kepada kaphe ? Cis,
najis, semola Allah Subhanahu Watala menjauhkan perbuatan yang sehina
itu dari diriku,” ujar Cut Nyak Dien. Namun, Pang Laot Ali tetap tidak
sampai hati melihat penderitaan pemimpinnya. Pang Laot Ali membuat
perjanjian dengan pihak Belanda agar tidak menyakiti Cut Nyak Dien.
Sebagaimana petunjuk Pang Laot, persembunyian Cut Nyak Dien ditemukan
oleh Belanda. Dalam keadaan buta dan lemah, ia mengangkat kedua
tangannya dengan kesepuluh jarinya dikembangkan. Dari mulutnya keluar
kata-kata “Ya, Allah, ya Tuhan inikah nasib perjuanganku ? Di dalam
bulan puasa aku diserahkan kepada kafir”. Dengan tandu, Cut Nayak Dien
dibawa Belanda. Tanggal 11 Desember 1906, Pemerintah Belanda
mengasingkan Cut Nyak Dien dan kemanakannya ke Sumedang, Jawa Barat.
Pada 9 November 1908 ia meninggal.
8. Cut Meutia
Memegang
pedang yang sudah dikeluarkan dari sarungnya, rambut terurai, tanpa ada
keraguan sedikit pun, Cut Nyak Meutia menyongsong pasukan Belanda yang
dipimpin oleh Mosselman. Satu peluru di kepala dan dua di tubuhnya
merubuhkan wanita yang digambarkan berparas cantik, kulit kuning
berambut panjang. Ia tewas tangal 25 Oktober 1910 di hulu Sungai Peutoe
setelah pengejaran yang melelahkan oleh pasukan elit Belanda. Cut Muetia
lahir tahun 1870. Ayahnya, Teuku Ben Daud, seorang uleebalang Pirak
yang setia terhadap Sultan Aceh, Muhammad Daud Syah. Ibunya bernama Cut
Jah. Ia mempunyai empat saudara laki-laki. Cut Meutia tumbuh menjadi
gadis cantik dan bertubuh indah dengan pembawaan yang lembut. Pesonanya
sesuai dengan namanya Muetia yang diartikan Mutiara. Kecantikan dan
kehalusan budinya membuat dirinya menjadi primadona.
Banyak
pria yang hendak meminangnya sampai akhirnya ia menikah dengan Teuku
Syamsarif seorang uleebalang tahun 1890 dalam sebuah pernikahan yang
agung sebagai anak uleebalang. Dibalik wajahnya yang lembut dan tutur
bahasanya yang santun itu, hatinya sebetulnya bagai kawah gunung berapi
yang bergelegak memendam kebencian terhadap Belanda sebagaimana juga
ayahnya dan saudara-saudaranya. Sebagai anak bangsawan yang dimanjakan,
ia sebetulnya tidak menuntut kemewahan dan kemanjaan. Dirinya adalah
lambang penderitaan rakyatnya. Kepribadiannya itu tidak dapat diubah
oleh siapapun, termasuk oleh suaminya sendiri. Pandangan dan
kepribadiannya seperti itu sangat bertentangan dengan suaminya yang
senang kedudukan, kemewahan serta mengagungkan martabat tinggi.
Untuk
memenuhi kesenangannya, ia bersedia bekerja sama dengan Belanda. Ia
memangku uleebalang atas pilihan Belanda. Sedangkan jauh sebelumnya,
Sultan Aceh, Muhammad Daud Syah sudah mengangkat Teuku Cut Mahammad,
adik Teuku Syamsarif sebagai uleebalang. Jadi, ketika itu, di Keureutoe
terdapat dua uleebalang. Kakak beradik itu bagai langit dan bumi. Sang
kakak berkiblat kepada Belanda, sedangkan sang adik berpihak kepada
kemerdekaan.
Antara
Cut Meutia dengan Teuku Syamsarif seperti campuran minyak dengan air.
Cut Meutia sudah berusaha membujuk suaminya agar berpaling dari
penjajah, tetapi tidak pernah ditanggapi. Karena tidak juga diindahkan,
Cut Meutia meminta diceraikan saja oleh suaminya. Akhirnya Cut Meutia
kembali kepada orangtuanya. Karena Teuku Syamsarif tidak menjemputnya
dan juga memberikan nafkah, maka mereka dianggap sudah bercerai.
Bercerai dari suaminya, gelora jiwanya terlepas bebas sudah. Ia pun ikut
bergerilya bersama ayah dan saudara-saudaranya. Namun, Teuku Ben Daud
tidak mengizinkannya karena yang ia seorang janda. Kemudian ia
dinikahkan dengan Teuku Cut Muhammad (Chik Tunong) dan barulah ia
benar-benar ikut angkat senjata. Seterusnya ia mendampingi suaminya
berperang. Tanggal 5 Maret 1905, Teuku Chik Tunong tertangkap kemudian
dihukum tembak. Sebelum dijatuhi hukuman, ia meminta bertemu dulu dengan
Cut Meutia dan anaknya Teuku Raja Sabi, 5 tahun. Ia berpesan agar
melanjutkan perlawanan terhadap Belanda, anaknya dididik agar terus
mempunyai kebencian terhadap Belanda. Cut Muhammad menyarankan menikah
Cut Meutia dengan Pang Naggore.
Pang
Nanggroe adalah seorang panglima perang cerdik dan licin. Setelah
melahirkan anaknya dari Chik Tunong, akhirnya Cut Meutia menikah dengan
Pang Nanggroe. Bersama suaminya yang ketiga ini, Cut Meutia meneruskan
perjuangan sampai akhirnya ditemukan Belanda. Perjuangannya diteruskan
oleh anaknya, Teuku Raja Sabi.
9. Pocut Baren
Pocut
Baren lahir di Tungkop. Ia putri seorang uleebalang Tungkop bernama
Teuku Cut Amat. Daerah uleebalang Tungkop terletak di Pantai Barta Aceh.
Suaminya juga seorang uleebalang yang memimpin perlawanan di Woyla.
Pocut Baren merupakan profil wanita yang tahan menderita, sanggup hidup
waktu lama dalam pengembaraan di gunung dan hutan belantara mendampingi
suaminya. Ia disegani oleh para pengikut, rakyat dan juga musuh. Ia
berjuang sejak muda dari tahun 1903 hingga tahun 1910.
Ia
memimpin pasukannya di belahan barat bersamaan dengan Cut Nyak Dien
ketika masih aktif dalam perjuangan. Ia telah mempersiapkan dirinya –
bila kelak ditinggalkan oleh suaminya dan sudah tahu apa harus diperbuat
nantinya. Ketika suaminya tertembak Belanda, tidak membuat Pocut Baren
mundur. Semangatnya malah semakin menggebu.
Suatu
penyerangan besar-besar dibawah pimpinan Letnan Hoogers, meluluhkan
benteng pertahanan Pocut Baren. Kaki Pocut Baren tertembak dan dibawa ke
Meulaboh. Selama ditawan di Meulaboh, luka tembaknya tidak kunjung
membaik. Kemudian Pocut Baren dibawa ke Kutaraja untuk dilakukan
pengobatan lebih intensif. Namun, dokter memutuskan kakinya diamputasi.
Selama dalam tawanan, Pocut Baren diperlakukan dengan baik. Sebagai
penghargaan atas dirinya, Belanda menghadiahkan sebuah kaki palsu
untuknya – yang didatangkan khusus dari Belanda. Ia wafat tahun 1933.
Meninggalkan rakyatnya yang sangat mencintainya.
10. Pocut Meurah Intan
Pocut
Meurah Intan seorang puteri bangsawan dari kalangan Kesultanan Aceh.
Ayahnya Keujruen Biheue berasal dari keturunan Pocut Bantan. Pocut
Meurah menikah dengan Tuanku Abdul Majid, salah seorang anggota keluarga
Sultan Aceh. Ia seorang pejabat bea cukai pelabuhan yang gigih
menantang kehadiran Belanda. Dari pernikahannya dengan Tuanku Abdul
Majid, Pocut Meurah mendapat tiga anak laki-laki. Belanda mencatat,
bahwa Pocut Meurah salah satu figur dari Kesultanan Aceh yang paling
anti Belanda. Dalam laporan kolonial (Koloniaal Verslag) tahun 1905,
sampai tahun 1904, satu-satunya tokoh dari kalangan Kesultanan Aceh yang
belum menyerah dan tetap bersikap anti terhadap Belanda adalah Pocut
Meurah Intan. Semangat anti Belanda yang teguh itulah yang diwariskannya
pada puteranya sehingga mereka bersama-sama dengan pejuang Aceh lainnya
menentang Belanda. Ia bercerai dengan suaminya karena Tuanku Abdul
Majid menyerahkan diri kepada Belanda. Lalu ia mengajak anak-anaknya
terus berperang. Dua diantara anaknya, Tuanku Muhammad Batee dan Tuanku
Nurdin, kemudian menjadi terkenal sebagai pemimpin pergerakan.
Intensitas
patroli Belanda yang semakin meningkat, membuat Pocut Meuran Intan
bersama kedua putranya tertangkap marsose. Namun, sebelum tertangkap, ia
masih sempat melakukan perlawanan yang amat mengagumkan pihak lawan.
Valtman, pemimpin pasukan Belanda yang berpengalaman di Aceh dan baik
hati, menyebutnya sebagai heldhaftig (gagah berani). “Kalau begitu,
biarlah aku mati,” ucap Pocut Meuran Intan. Lalu ia mencabut rencongya
menyerbu brigade tempur Belanda. Ia mengalami luka parah. Terbaring di
tanah digenangi darah dan lumpur. Veltman mengira ia tewas lalu
meninggalkannya. Kata Valtman, biar dia meninggal ditangan bangsanya
sendiri. Pocut Meuran Intan ternyata masih hidup. Ia diselamatkan.
Veltman kemudian mengirim dokter untuk merawat luka-lukanya. Namun,
Pocut Meuran menolak dokter Belanda itu. Ia sembuh, tetapi kondisi
tubuhnya tidak lagi sekuat sebelumnya. Kemudian, bersama putranya, Pocut
Meurah Tuanku Budiman dimasukkan ke penjara. Sementara putranya yang
lain, Tuanku Nurdin tetap melanjutkan perjuangan sampai kemudian ditahan
oleh Belanda. Pocut Meurah Intan yang pincang dengan kedua putranya 6
Mei 1905 kemudian diasingkan ke Blora, Jawa. Pada 19 Septembar 1937
Pocut Meurah Intan meninggal.
dipati ukur pahlawan
Di kota Bandung ada sebuah jalan yang tak saya temukan di tempat lain
yakni Jalan Dipati Ukur. Saya pun bertanya-tanya siapakah gerangan
Dipati Ukur ini? Seorang pahlawan lokal layaknya Jalan Samadikun di
Cirebon atau hanya nama dari tokoh legenda seperti Sangkuriang. Membuat
penasaran. Ketika saya bertanya ke Google pun hasilnya sama saja, malah
bertambah bingung karena ternyata kisah Dipati Ukur terlalu banyak
versinya. Bahkan dari banyaknya versi itu untuk menentukan di mana
Dipati Ukur ini wafat dan dimakamkan pun sangat bias. Ada sumber yang
mengatakan kalau makam Raden Dipati Ukur itu di Kabuyutan, dekat
jembatan kereta api, antara Soreang - Ciweday. Sumber lain mengatakan
kalau Dipati Ukur adalah seorang Dipati yang berperang melawan Mataram,
tertangkap di Gunung Rakutuk (tempat di mana Kartosuwiryo gembong DI/TII
tertangkap) dekat pengalengan. Makamnya di Baleendah (dulu bernama
Pabuntelan). Dan versi lainnya yang saya temukan adalah bahwa ketika
Dipati Ukur bentrok dengan Mataram, beliau tertangkap di Gunung Lumbung,
dekat Pengalengan, kemudian dibawa ke Mataram dan dihukum mati di
alun-alun Mataram. Makin bingung.
Tapi dari cerita di atas jelas Dipati Ukur merupakan orang besar yang
karena misterinya membuat beliau menjadi semacam mitos dan legenda tanpa
kejelasan sejarah. Tapi, menurut salah atu sumber, penyebab dari tak
ada kejelasan sejarah mengenai Dipati Ukur tersebab karena pada waktu
itu Dipati Ukur merupakan salah satu orang yang paling dicari oleh
Mataram yang oleh karenanya rakyat menjadi takut untuk menceritakan
kisah Dipati Ukur seutuhnya. Kisah itu pun menjadi terpenggal-penggal
dan banyak versi seperti halnya puzzle yang terberai.
Meskipun begitu, tak berarti mencari kejelasan sejarah dan kisah Dipati
Ukur menjadi buntu karenanya. Ada beberapa disertasi yang bisa dijadikan
tolak ukur untuk mencari kejelasan kisah sesungguhnya dari Dipati Ukur
ini. Dan karena disertasi merupakan karya ilmiah yang keakuratan datanya
didapat dari berbagai penelitian sekaligus fakta-fakta sejarah yang
dapat dipertanggungjawabkan maka saya lebih memilih disertasi tersebut
sebagai sumber tulisan dari kisah Dipati Ukur ini sekarang. Disertasi
itu antara lain disertasi milik Edi S. Ekajati (Carita Dipati Ukur Karya
Sastra Sejarah Sunda), disertasi Emuch Herman Sumantri (Sejarah
Sukapura, Sebuah Telaah Filologis) dan hasil penelitian dari Atja, Saleh
Danasasmita dan Ayat Rohaedi dari Naskah Pangeran Wangsakerta (Nagara
Kerta Bumi 1.5). Dari ketiga sumber itulah saya akan menceritakan
tentang Dipati Ukur itu di sini.
Pengaruh Mataram di Tatar Sunda
Sebelum lebih jauh bercerita tentang Dipati Ukur ada baiknya kalau saya
menyertakan terlebih dahulu tentang fakta sejarah yang menyertainya
yakni kerajaan Galuh. Kerajaan Galuh merupakan sebuah kerajan di bawah
naungan Tarumanegara yang didirikan pada tahun 612 oleh Wretikandayun
dan berhasil ditaklukan oleh kerajaan Islam Cirebon pada tahun 1528.
Cerita lengkapnya sendiri adalah bahwa pada tahun 1524, datanglah
Fadhilah Khan ke Cirebon. Beliau adalah putra dari Sultan Huda di
Samudera Pasai. Orang Portugis menyebut Fadhilah Khan sebagai Faletehan.
Sebelum diangkat menjadi panglima prajurit Demak, oleh Sultan
Trenggono, Faletehan diberi tugas untuk menyebarkan Islam di daerah
Kekuasaan Pajajaran yakni Cirebon membantu Syarief Hidayatullah (Sunan
Gunung Jati).
Gabungan prajurit Demak dan Cirebon akhirnya pada tahun 1526 menguasai
Banten. Kemudian Sunda Kelapa dan Pelabuan Pajajaran pun dapat dikuasai
pada tahun 1527, Kerajaan Hindu Talaga (Majalengka) ditaklukan tahun
1529 (panglima perangnya waktu itu adalah Pangeran Walangsungsang). Dan
puncaknya adalah pada tahun 1579 gabungan prajurit Demak, Cirebon dan
Banten ini akhirnya dapat meruntuhkan pusat kerajaan Sunda Pakuan. Dari
beberapa kerajaan penting di tatar Sunda yang ditaklukan oleh pasukan
Gabungan itulah akhirnya semakin membuka jalan bagi Mataram untuk
menguasai tatar Sunda.
Pada tahun 30 Mei 1619, VOC datang ke Jakarta yang waktu itu bernama
Batavia untuk mendirikan kongsi dagang di sana. Kongsi dagang VOC ini
cepat sekali maju pesat karena VOC menerapkan sistem monopoli pada
wilayah dagangnya bahkan hingga ke wilayah dagang di daerah kekuasan
Mataram. Sontak saja Sultan Agung yang berkuasa waktu itu menjadi geram
karena polah tingkah VOC ini membuat tataniaga Mataram menjadi
tersendat. Merasa dirugikan oleh pola tingkah VOC, Mataram pada tahun
1628 memutuskan untuk menyerang Batavia. Gagal, mencoba kembali di tahun
1629 tetap gagal.
Pemberontakan Dipati Ukur
Tanggal 12 Juli 1628, datang utusan Mataram ke Timbanganten (Tatar
Ukur). Membawa surat tugas dari Sultan Agung, untuk memerintahkan
Adipati Wangsanata atau disebut juga Wangsataruna alias Dipati Ukur,
untuk memimpin pasukannya dan menyerbu VOC di Batavia membantu pasukan
dari Jawa. Waktu itu bulan Oktober tahun 1628. Dalam surat tersebut ada
semacam perjanjian bahwa pasukan Sunda harus menunggu Pasukan Jawa di
Karawang sebelum nantinya bersama-sama menyerang Batavia. Tapi, setelah
seminggu ditunggu ternyata pasukan dari Jawa tak juga kunjung datang
sementara logistic makin menipis. Karena logistic yang kian menipis dan
takut kalau mental prajurit keburu turun maka Dipati Ukur pun memutuskan
untuk terlebih dahulu pergi ke Batavia menggempur VOC sambil menunggu
bantuan pasukan dari Jawa. Baru dua hari Pasukan Sunda yang dipimpin
oleh Dipati Ukur berperang melawan VOC, pasukan Jawa datang ke Karawang
dan mendapati bahwa Pasukan Sunda tak ada di sana. Tersinggung karena
merasa tak dihargai, bukannya membantu pasukan Sunda yang sedang
mati-matian menggempur VOC pasukan Jawa ini malah memusuhi Pasukan
Sunda..
Ditengah kekalutan itu, datang utusan dari Dayeuh Ukur membawa surat
dari Enden Saribanon yang merupakan istri dari Dipati Ukur yang
mengabarkan bahwa para gadis, istri-istri prajurit dan bahkan dirinya
sendiri pun hampir diperkosa oleh panglima utusan Mataram dan
pasukannya. Panglima dari Mataram itu sendiri ada di Dayeuh Ukur dalam
rangka mengantarkan surat dari Sultan Agung dan begitu mendengar bahwa
Dipati Ukur tak mengindahkan pesan dari Sultan Agung untuk menunggu
pasukan Jawa di Karawang, para panglima ini kemudian melampiaskan
kemarahannya dengan memperkosa gadis-gadis dan juga merampas harta benda
mereka.
Mendengar kabar itu, Dipati Ukur yang sedang berperang memutuskan untuk
menghentikan perang dan kembali ke Pabuntelan (Paseurdayeuh Tatar Ukur,
atau Baleendah - Dayeuhkolot sekarang). Dipati Ukur yang marah dengan
kelakuan para utusan mataram itu sesampainya di Pabuntelan langsung
menghabisi para utusan Mataram itu. Sayangnya, dari semua utusan itu ada
satu orang yang lolos dari kematian dan kemudian melapor kepada Sultan
Agung perihal apa yang dilakukan oleh Dipati Ukur terhadap
teman-temannya.
Dalam ‘Nagara Karta Bumi’ disebutkan bahwa salah satu watak Sultan Agung
adalah jika memberi tugas kepada bawahannya itu tidaklah boleh gagal.
Jika gagal maka sudah dipastikan bahwa yang bersangkutan akan dihukum
mati. Maka, panglima Mataram yang lolos ini pun agar terhindar dari
hukuman mati mengaranglah ia tentang kenapa pasukan Mataram bisa gagal
menaklukan VOC. Semua kesalahan itu ditimpakan ke pundak Dipati Ukur.
Sultan Agung pun murka karena bagaimana pun juga mundurnya Dipati Ukur
dari medan perang merupakan kerugian besar bagi Mataram. Intinya,
penyebab kalahnya Mataram adalah karena mundurnya Dipati Ukur. Oleh
karenanya, Dipati Ukur dicap penghianat dan mau memberontak kepada
Mataram. Jadi, karena Dipati Ukur dianggap memberontak maka Dipati Ukur
pun oleh Sultan Agung pantas dihukum mati. Aklhirnya Sultan Agung pun
menyuruh Cirebon untuk menangkap Dipati Ukur hidup atau mati. Penumpasan
Dipati Ukur itu dipimpin langsung oleh Tumenggung Narapaksa dari
Mataram.
Dari kenyatan itu, Dipati Ukur kemudian sadar bahwa dirinya sejak
sekarang harus menghadapi Mataram. Kekuatan pun di susun. Dipati Ukur
mulai melobi beberapa bupati untuk juga melawan Mataram dan menjadi
Kabupaten yang mandiri. Ajakan ini menimbulkan pro dan kontra. Sebagian
ada yang setuju seperti Bupati Karawang, Ciasem, Sagalaherang, Taraju,
Sumedang, Pamanukan, Limbangan, Malangbong dan sebagainya. Dan sebagian
laginya tidak setuju. Di antara yang tidak setuju itu adalah Ki Somahita
dari Sindangkasih, Ki Astamanggala dari Cihaurbeuti, dan Ki Wirawangsa
dari Sukakerta.
Belum juga Dipati Ukur berhasil mewujudkan impiannya untuk mendirikan
kabupaten mandiri yang lepas dari kekuasan Mataram tiba-tiba bagus
Sutaputra, salah satu pemuda yang sakti mandraguna (putra dari bupati
Kawasen, wilayah Galuh) yang merupakan algojo yang dimintai tolong oleh
Tumenggung Narapaksa keburu datang untuk menangkapnya. Terjadilah
pertarungan sengit antar keduanya (adikabarkan hingga 40 hari 40 malam).
Setelah semua tenaga terkuras akhirnya Dipati Ukur pun dapat diringkus
kemudian di bawa ke Cirebon untuk diserahkan ke Mataram. Dipati Ukur pun
akhirnya di hukum mati di alun-alun Mataram dengan cara dipenggal
kepalanya.
Sepeninggal Dipati Ukur wafat, kekuasan Mataram di tatar Sunda pun kian
kukuh. Bahkan di wilayah pesisir utara, banyak pasukan Mataram yang tak
kembali lagi ke Mataram dan lebih memilih memperistri penduduk setempat.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup para prajurit ini kemudian banyak yang
membuka lahan sawah terutama di daerah Karawang, berbeda dengan
kebiasaan masyarakat Sunda waktu itu yang umumnya berkebun. Mungkin,
inilah yang pada akhirnya sampai sekarang Karawang terkenal dengan
sawahnya dan menjadi salah satu lumbung padi di Jawa Barat.
Pahlawan Nasional Indonesia
Pahlawan Nasional Indonesia
Cut Nyak Dhien pada mata uang 10,000 rupiah
Sisingamangaraja XII pada mata uang 1,000 rupiah
| Daftar isi |
|---|
| A • B • C • D • E • F • G • H • I • J • K • L • M • N • O • P • R • S • T • U • W • Y • Z |
| Nama | Lahir | Wafat | Keterangan | Penetapan | Provinsi asal/pengusul | Ref. |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Abdul Halim | 1911 | 1988 | Aktivis kemerdekaan dan politisi, Perdana Menteri Indonesia | 2008 | Sumatera Barat | [3][8] |
| Abdul Halim Majalengka | 1887 | 1962 | Aktivis kemerdekaan dan Ulama, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia | 2008 [9] | Jawa Barat | [10][8] |
| Abdul Haris Nasution | 1918 | 2000 | Jenderal Angkatan Darat, dua kali diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat | 2002 | Sumatera Utara | [3][11] |
| Abdul Kadir | 1771 | 1875 | Bangsawan dari Melawi, menawarkan pengembangan ekonomi, melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda | 1999 | Kalimantan Barat | [3][12] |
| Abdul Malik Karim Amrullah | 1908 | 1981 | Sarjana Islam dan penulis sekaligus tokoh Muhammadiyah. | 2011 | Sumatera Barat | [13] |
| Abdul Muis | 1883 | 1959 | Politisi, kemudian penulis | 1959 | Sumatera Barat | [c][4][14] |
| Abdul Rahman Saleh | 1909 | 1947 | Tokoh awal dalam Angkatan Udara, terbunuh ketika membawa keperluan medis karena ditembak oleh Belanda | 1974 | D.I. Yogyakarta | [4][15] |
| Abdul Wahab Hasbullah | 1888 | 1971 | Tokoh Islam, salah seorang pendiri Nadhlatul Ulama | 2014 | Jawa Timur | [16] |
| Andi Abdullah Bau Massepe | 1918 | 1947 | Bangsawan Bugis, memimpin penyerangan melawan pasukan Belanda selama Revolusi Nasional, seorang putra dari Andi Mappanyukki | 2005 | Sulawesi Selatan | [3][17] |
| Achmad Subarjo | 1896 | 1978 | Aktivis kemerdekaan dan menteri pemerintahan | 2009 | Jawa Barat | [3][18] |
| Adam Malik | 1917 | 1984 | Jurnalis dan aktivis kemerdekaan, Wakil Presiden Indonesia ketiga | 1998 | Sumatera Utara | [3][19] |
| Adnan Kapau Gani | 1905 | 1968 | Aktivis kemerdekaan yang menjadi menteri pemerintahan, menyeludupkan senjata untuk mendukung Revolusi Nasional | 2007 | Sumatera Barat | [3][20] |
| Nyi Ageng Serang | 1752 | 1828 | Pemimpin gerilyawan Jawa yang memimpin penyerangan terhadap kolonial Belanda atas beberapa pendudukan | 1974 | Jawa Tengah | [3][21] |
| Agus Salim | 1884 | 1954 | Aktivis kemerdekaan, politisi, pemimpin Islam Minang | 1961 | Sumatera Barat | [4][22] |
| Agustinus Adisucipto | 1916 | 1947 | Tokoh awal dalam Angkatan Udara, terbunuh ketika membawa keperluan medis karena ditembak oleh Belanda | 1974 | D.I. Yogyakarta | [4][23] |
| Ahmad Dahlan | 1868 | 1934 | Pemimpin Islam Jawa, mendirikan Muhammadiyah; suami Siti Walidah | 1961 | D.I. Yogyakarta | [4][24] |
| Ahmad Rifa'i | 1786 | 1870 | Pemikir dan penulis Islam yang dikenal karena pernyataan anti-Belandanya | 2004 | Jawa Tengah | [3][25] |
| Ahmad Yani | 1922 | 1965 | Pemimpin Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September | 1965 | Jawa Tengah | [4][26] |
| Alimin | 1889 | 1964 | Pendukung kemerdekaan, politisi, dan tokoh Partai Komunis Indonesia | 1964 | Jawa Tengah | [4][27] |
| Amir Hamzah | 1911 | 1946 | Penyair dan nasionalis | 1975 | Sumatera Utara | [3][28] |
| Antasari | 1809 | 1862 | Melakukan penyerangan terhadap pasukan kolonial Belanda dalam Perang Banjar | 1968 | Kalimantan Selatan | [4][29] |
| Arie Frederik Lasut | 1918 | 1949 | Geolog dan pengajar yang dieksekusi oleh Belanda | 1969 | Sulawesi Utara | [4][30] |
| As'ad Syamsul Arifin | 1897 | 1990 | 2016 | Jawa Timur | [7] | |
| Bagindo Azizchan | 1910 | 1947 | Walikota Padang, melawan pasukan Belanda saat Revolusi Nasional | 2005 | Sumatera Barat | [3][31] |
| Basuki Rahmat | 1921 | 1969 | Jenderal, saksi dari Supersemar | 1969 | Jawa Timur | [4][32] |
| Bernard Wilhelm Lapian | 1892 | 1977 | 2015 | Sulawesi Utara | [33] | |
| Teungku Chik di Tiro | 1836 | 1891 | Tokoh Islam Aceh dan pemimpin gerilyawan yang melakukan perlawanan pasukan kolonial Belanda | 1973 | Aceh | [4][34] |
| Cilik Riwut | 1918 | 1987 | Prajurit dan politisi, menawarkan pengembangan ekonomi dan budaya di Kalimantan Tengah | 1998 | Kalimantan Tengah | [3][35] |
| Cipto Mangunkusumo | 1886 | 1943 | Politisi Jawa, mentor Sukarno | 1964 | Jawa Tengah | [4][36] |
| Cokroaminoto | 1883 | 1934 | Politisi, pemimpin Sarekat Islam, mentor Sukarno | 1961 | Jawa Timur | [4][37] |
| Ernest Douwes Dekker | 1879 | 1950 | Jurnalis dan politisi Indo yang membantu kemerdekaan Indonesia | 1961 | Jawa Timur | [d][4][38] |
| Dewi Sartika | 1884 | 1947 | Pengajar, mendirikan sekolah untuk perempuan yang pertama di negara tersebut | 1966 | Jawa Barat | [4][39] |
| Cut Nyak Dhien | 1850 | 1908 | Pemimpin gerilyawan Aceh yang melakukan penyerangan terhadap pasukan kolonial belanda; istri Teuku Umar | 1964 | Aceh | [4][40] |
| Diponegoro | 1785 | 1855 | Putra Sultan Yogyakarta, melangsungkan perang lima tahun melawan pasukan kolonial Belanda | 1973 | D.I. Yogyakarta | [4][41] |
| Donald Izacus Panjaitan | 1925 | 1965 | Jenderal Angkatan Darat, terbunuh dalam Gerakan 30 September | 1965 | Sumatera Utara | [4][42] |
| Eddy Martadinata | 1921 | 1966 | Laksamana Angkatan Laut dan diplomat, terbunuh dalam kecelakaan helikopter | 1966 | Jawa Barat | [4][43] |
| Fakhruddin | 1890 | 1929 | Pemimpin Islam, menegosiasikan pengamanan pejiarah haji Indonesia; tokoh Muhammadiyah. | 1964 | D.I. Yogyakarta | [4][44] |
| Fatmawati | 1923 | 1980 | Pembuat bendera nasional pertama, aktivis sosial, istri Sukarno | 2000 | Bengkulu | [3][45] |
| Ferdinand Lumbantobing | 1899 | 1962 | Doktor dan politisi, memperjuangkan hak asasi pasukan buruh | 1962 | Sumatera Utara | [4][46] |
| Frans Kaisiepo | 1921 | 1979 | Nasionalis Papua yang membantu dalam akuisisi Papua | 1993 | Papua | [3][47] |
| Gatot Mangkupraja | 1896 | 1968 | Aktivis kemerdekaan dan politisi, menyarankan pembentukan Pembela Tanah Air | 2004 | Jawa Barat | [3][48] |
| Gatot Subroto | 1907 | 1962 | Jenderal, deputi ketua staff Angkatan Darat | 1962 | Jawa Tengah | [4][49] |
| Halim Perdanakusuma | 1922 | 1947 | Tokoh awal dalam Angkatan Udara, terbunuh saat Revolusi Nasional | 1975 | Jawa Timur | [3][50] |
| Hamengkubuwono I | 1717 | 1792 | Sultan Yogyakarta, melakukan perlawanan terhadap VOC, mendirikan Yogyakarta | 2006 | D.I. Yogyakarta | [3][51] |
| Hamengkubuwono IX | 1912 | 1988 | Sultan Yogyakarta, aktivis kemerdekaan, pemimpin militer, dan politisi; Wakil Presiden Indonesia kedua | 1990 | D.I. Yogyakarta | [3][52] |
| Harun Bin Said | 1947 | 1968 | Mengebom MacDonald House saat konfrontasi Indonesia–Malaysia | 1968 | Jawa Timur | [e][4][53] |
| Hasan Basri | 1923 | 1984 | Prajurit selama Revolusi Nasional Indonesia, mendukung integrasi Kalimantan di Indonesia | 2001 | Kalimantan Selatan | [3][54] |
| Hasanuddin | 1631 | 1670 | Sultan Gowa, melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda | 1973 | Sulawesi Selatan | [4][55] |
| Hasyim Asy'ari | 1875 | 1947 | Pemimpin Islam, pendiri Nahdlatul Ulama | 1964 | Jawa Timur | [4][56] |
| Hazairin | 1906 | 1975 | Sarjana legal, aktivis kemerdekaan, menteri pemerintahan, dan pengajar | 1999 | Sumatera Barat | [3][57] |
| Herman Johannes | 1912 | 1992 | Insinyur, membuat senjata selama Revolusi Nasional, membantu pendirian Universitas Gadjah Mada | 2009 | Nusa Tenggara Timur | [3][58] |
| Ida Anak Agung Gde Agung | 1921 | 1999 | Aktivis kemerdekaan dan menteri pemerintahan | 2007 | Bali | [3][59] |
| Idham Chalid | 1921 | 2010 | Pemimpin Nahdlatul Ulama, politisi | 2011 | Kalimantan Selatan | [13][60] |
| Ilyas Yakoub | 1903 | 1958 | Aktivis kemerdekaan, politisi, dan anggota pasukan gerilyawan | 1999 | Sumatera Barat | [3][61] |
| Tuanku Imam Bonjol | 1772 | 1864 | Tokoh Islam dari Sumatera Barat yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda dalam Perang Padri | 1973 | Sumatera Barat | [4][62] |
| Radin Inten II | 1834 | 1856 | Bangsawan dari Lampung, memimpin revolusi penyerangan penjajah Belanda | 1986 | Lampung | [3][63] |
| Iskandar Muda | 1593 | 1636 | Sultan Aceh, memperluas pengaruh negara | 1993 | Aceh | [f][3][64] |
| Ismail Marzuki | 1914 | 1958 | Komposer yang membuat sejumlah lagu kebangsaan | 2004 | DKI Jakarta | [3][65] |
| Iswahyudi | 1918 | 1947 | Tokoh awal dalam Angkatan Udara, terbunuh saat Revolusi Nasional | 1975 | Jawa Timur | [3][66] |
| Iwa Kusumasumantri | 1899 | 1971 | Aktivis kemerdekaan, ahli hukum, dan politisi | 2002 | Jawa Barat | [3][67] |
| Izaak Huru Doko | 1913 | 1985 | Aktivis kemerdekaan dan pengajar, membantu pendirian Universitas Udayana | 2006 | Nusa Tenggara Timur | [3][68] |
| Jamin Ginting | 1921 | 1974 | Pejuang kemerdekaan menentang pemerintah Hindia Belanda di Tanah Karo | 2014 | Sumatera Utara | [16] |
| Janatin | 1943 | 1968 | Mengebom MacDonald House saat konfrontasi Indonesia–Malaysia | 1968 | Jawa Tengah | [g][4][69] |
| Jatikusumo | 1917 | 1992 | Jenderal Angkatan Darat dan politisi | 2002 | Jawa Tengah | [3][70] |
| Andi Jemma | 1935 | 1965 | Aktivis kemerdekaan, memimpin penyerangan melawan pasukan Belanda saar Revolusi Nasional | 2002 | Sulawesi Selatan | [3][71] |
| Johannes Abraham Dimara | 1916 | 2000 | Pimpinan tentara Papua yang membantu dalam akuisisi Papua | 2010 | Papua | [72] |
| Johannes Leimena | 1905 | 1977 | Menteri Kesehatan Pertama, mengembangkan sistem klinik Puskesmas | 2010 | Maluku | [72] |
| Juanda Kartawijaya | 1911 | 1963 | Politisi Sunda, Perdana Menteri Indonesia terakhir | 1963 | Jawa Barat | [4][73] |
| Karel Satsuit Tubun | 1928 | 1965 | Brigadir polisi, terbunuh saat Gerakan 30 September | 1965 | Maluku | [4][74] |
| Kartini | 1879 | 1904 | Tokoh hak asasi perempuan Jawa | 1964 | Jawa Tengah | [4][75] |
| Ignatius Joseph Kasimo | 1900 | 1986 | Aktivis kemerdekaan, pemimpin Partai Katolik | 2011 | D.I. Yogyakarta | [13][76] |
| Katamso Darmokusumo | 1923 | 1965 | Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September | 1965 | Jawa Tengah | [4][77] |
| I Gusti Ketut Jelantik | Tidak diketahui | 1849 | Pemimpin Bali yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda | 1993 | Bali | [3][78] |
| I Gusti Ketut Puja | 1904 | 1957 | Gubernur Bali pertama | 2011 | Bali | [13][79] |
| Ki Bagus Hadikusumo | 1890 | 1954 | 2015 | D.I. Yogyakarta | [33] | |
| Ki Hajar Dewantara | 1889 | 1959 | Pengajar dan menteri pemerintahan, mendirikan Taman Siswa, saudara Suryopranoto | 1959 | D.I. Yogyakarta | [4][80] |
| Ki Sarmidi Mangunsarkoro | 1904 | 1957 | Pengajar bersama dengan Budi Utomo dan Taman Siswa, menteri pemerintahan | 2011 | Jawa Tengah | [13][81] |
| Kiras Bangun | 1852 | 1942 | Pemimpin gerilyawan Batak yang melawan penjajah Belanda | 2005 | Sumatera Utara | [3][82] |
| Kusumah Atmaja | 1898 | 1952 | Ketua Kehakiman Mahkamah Agung Pertama | 1965 | Jawa Barat | [4][83] |
| La Maddukelleng | 1700 | 1765 | Bangsawan dari Kesultanan Paser, mengusir pasukan Belanda dari Kerajaan Wajo | 1998 | Sulawesi Selatan | [3][84] |
| Lambertus Nicodemus Palar | 1900 | 1981 | Diplomat, menegosiasikan pengakuan Indonesia saat Revolusi | 2013 | Sulawesi Utara | [85] |
| John Lie | 1911 | 1988 | Laksamana Muda Angkatan Laut, menyeludupkan barang untuk membantu Revolusi Nasional | 2009 | Sulawesi Utara | [3][86] |
| Mahmud Badaruddin II | 1767 | 1852 | Sultan Palembang, yang melakukan perlawanan terhadap penjajah Inggris dan Belanda | 1984 | Sumatera Selatan | [3][87] |
| Mangkunegara I | 1725 | 1795 | Melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda dan antek-anteknya di Jawa Tengah | 1988 | Jawa Tengah | [3][88] |
| Andi Mappanyukki | 1885 | 1967 | Bangsawan Bugis, memimpin penyerangan melawan pasukan Belanda pada 1920an dan 30an, ayah dari Andi Abdullah Bau Massepe | 2004 | Sulawesi Selatan | [3][89] |
| Maria Walanda Maramis | 1872 | 1924 | Pendukung hak asasi perempuan dan pengajar | 1969 | Sulawesi Utara | [4][90] |
| Martha Christina Tiahahu | 1800 | 1818 | Gerilyawan dari Maluku yang wafat saat ditahan Belanda | 1969 | Maluku | [4][91] |
| Marthen Indey | 1912 | 1986 | Nasionalis dan aktivis kemerdekaan, menawarkan intergrasi Papua di Indonesia | 1993 | Papua | [3][92] |
| Mas Isman | 1924 | 1982 | 2015 | Jawa Timur | [33] | |
| Mas Mansur | 1896 | 1946 | Sarjana Islam, pemimpin Muhammadiyah | 1964 | Jawa Timur | [4][93] |
| Mas Tirtodarmo Haryono | 1924 | 1965 | Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September | 1965 | Jawa Timur | [4][94] |
| Maskun Sumadireja | 1907 | 1986 | Aktivis kemerdekaan dan politisi | 2004 | Jawa Barat | [3][95] |
| Cut Nyak Meutia | 1870 | 1910 | Pemimpin gerilyawan Aceh yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda | 1964 | Aceh | [4][96] |
| Mohammad Hatta | 1902 | 1980 | Aktivis kemerdekaan, Wakil Presiden Indonesia Pertama | 2012 | Sumatera Barat | [h][97][98] |
| Mohammad Husni Thamrin | 1894 | 1941 | Politisi dan aktivis kemerdekaan | 1960 | DKI Jakarta | [4][99] |
| Mohammad Natsir | 1908 | 1993 | Sarjana Islam dan politisi, Perdana Menteri Indonesia kelima | 2008 | Sumatera Barat | [3][100] |
| Teuku Muhammad Hasan | 1906 | 1997 | Aktivis kemerdekaan, gubernur Sumatera pertama | 2006 | Aceh | [3][101] |
| Muhammad Mangundiprojo | 1905 | 1988 | Pejuang kemerdekaan, pemimpin Pertempuran Surabaya | 2014 | Jawa Tengah | [16] |
| Muhammad Yamin | 1903 | 1962 | Penyair yang menjadi politisi dan aktivis kemerdekaan | 1973 | Sumatera Barat | [4][102] |
| Mohammad Yasin | 1920 | 2012 | Bapak Brimob Kepolisian RI | 2015 | Sulawesi Tenggara | [33] |
| Mustopo | 1913 | 1986 | Pemimpin saat Pertempuran Surabaya, mendirikan Kampus Kedokteran Gigi Dr. Moestopo | 2007 | Jawa Timur | [3][103] |
| Muwardi | 1907 | 1948 | Menangani keamanan saat Proklamasi Kemerdekaan, membangun sebuah rumah saat di Surakarta | 1964 | Jawa Tengah | [4][104] |
| Nani Wartabone | 1907 | 1986 | Aktivis kemerdekaan dan politisi, membantu memadamkan pemberontakan Permesta | 2003 | Gorontalo | [3][105] |
| I Gusti Ngurah Made Agung | 1876 | 1906 | 2015 | Bali | [33] | |
| I Gusti Ngurah Rai | 1917 | 1946 | Pemimpin militer Bali saat Revolusi Nasional | 1975 | Bali | [3][106] |
| Nuku Muhammad Amiruddin | 1738 | 1805 | Sultan Tidore, memimpin beberapa pertempuran laut melawan pasukan kolonial Belanda | 1995 | Maluku Utara | [3][107] |
| Noer Alie | 1914 | 1992 | Pemimpin Islam dan pengajar, memimpin prajurit saat Revolusi Nasional | 2006 | Jawa Barat | [3][108] |
| Teuku Nyak Arif | 1899 | 1946 | Politisi Aceh dan pemimpin perlawanan, gubernur Aceh pertama | 1974 | Aceh | [109] |
| Opu Daeng Risaju | 1880 | 1964 | Politisi wanita awal, melakukan perlawanan terhadap Belanda saat Revolusi Nasional | 2006 | Sulawesi Selatan | [3][110] |
| Oto Iskandar di Nata | 1897 | 1945 | Politisi dan aktivis kemerdekaan | 1973 | Jawa Barat | [4][111] |
| Pajonga Daeng Ngalie | 1901 | 1958 | Mengkoordinasikan penyerangan di Sulawesi Selatan saat Revolusi Nasional, menawarkan integrasi nasional | 2006 | Sulawesi Selatan | [3][112] |
| Pakubuwono VI | 1807 | 1849 | Susuhunan Surakarta, memberontak melawan pasukan kolonial Belanda | 1964 | Jawa Tengah | [4][113] |
| Pakubuwono X | 1866 | 1939 | Susuhunan Surakarta, mendukung berbagai proyek untuk kepentingan Pribumi Indonesia | 2011 | Jawa Tengah | [13][114] |
| Pattimura | 1783 | 1817 | Gerilyawan dari Maluku yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda | 1973 | Maluku | [4][115] |
| Pierre Tendean | 1939 | 1965 | Prajurit Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September | 1965 | DKI Jakarta | [4][116] |
| Pong Tiku | 1846 | 1907 | Bangsawan Toraja, melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda | 2002 | Sulawesi Selatan | [3][117] |
| Raja Ali Haji | 1809 | kr. 1870 | Sejarawan dan penyair dari Riau | 2004 | Kepulauan Riau | [3][118] |
| Raja Haji Fisabilillah | 1727 | 1784 | Pejuang dari Riau yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda | 1997 | Riau | [3][119] |
| Rajiman Wediodiningrat | 1879 | 1952 | Ketua Dewan Perwakilan Rakyat pertama | 2013 | D.I. Yogyakarta | [85] |
| Ranggong Daeng Romo | 1915 | 1947 | Memimpin pasukan dalam dua pertempuran melawan pasukan Belanda saat Revolusi Nasional | 2001 | Sulawesi Selatan | [3][120] |
| Rasuna Said | 1910 | 1965 | Pendukung hak asasi wanita dan nasionalis | 1974 | Sumatera Barat | [3][121] |
| Robert Wolter Monginsidi | 1925 | 1949 | Gerilyawan di Makassar saat Revolusi Nasional, dieksekusi oleh Belanda | 1973 | Sulawesi Selatan | [4][122] |
| Saharjo | 1909 | 1963 | Menteri Kehakiman, pelopor pengesahan pembaruan di negara tersebut | 1963 | Jawa Tengah | [4][123] |
| Sam Ratulangi | 1890 | 1949 | Politisi Minahasa dan pendukung kemerdekaan Indonesia | 1961 | Sulawesi Utara | [4][124] |
| Samanhudi | 1878 | 1956 | Pengusaha, mendirikan Sarekat Islam | 1961 | Jawa Tengah | [4][125] |
| Silas Papare | 1918 | 1978 | Memperjuangkan kemerdekaan Papua dari Belanda, menawarkan integrasi Papua di Indonesia | 1993 | Papua | [3][126] |
| Sisingamangaraja XII | 1849 | 1907 | Pemimpin Batak yang melakukan kampanye gerilyawan melawan pasukan kolonial Belanda | 1961 | Sumatera Utara | [4][119] |
| Siswondo Parman | 1918 | 1965 | Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September | 1965 | Jawa Tengah | [4][127] |
| Siti Hartinah | 1923 | 1996 | Istri presiden Suharto, aktif dalam karya sosial, mendirikan Taman Mini Indonesia Indah | 1996 | Jawa Tengah | [3][128] |
| Siti Walidah | 1872 | 1946 | Pendiri Aisyiyah, tokoh Muhammadiyah, istri Ahmad Dahlan, | 1971 | D.I. Yogyakarta | [i][4][129] |
| Slamet Riyadi | 1927 | 1950 | Brigadir Jeneral Angkatan Darat, terbunuh ketika putting down pemberontakan di Sulawesi | 2007 | Jawa Tengah | [3][130] |
| Sudirman | 1916 | 1950 | Komandan Ketua Tentara Nasional Indonesia pada saat Revolusi Nasional. | 1964 | Jawa Tengah | [j][4][131] |
| Albertus Sugiyapranata | 1896 | 1963 | Uskup Katolik Jawa dan nasionalis | 1963 | Jawa Tengah | [4][132] |
| Sugiyono Mangunwiyoto | 1926 | 1965 | Kolonel Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September | 1965 | D.I. Yogyakarta | [4][133] |
| Suharso | 1912 | 1971 | Pelopor pengobatan prostesis | 1973 | Jawa Tengah | [4][134] |
| Sukarjo Wiryopranoto | 1903 | 1962 | Tokoh kemerdekaan, diplomat, dan politisi | 1962 | Jawa Tengah | [4][135] |
| Sukarni | 1916 | 1971 | Tokoh kemerdekaan, diplomat, dan politisi | 2014 | Jawa Timur | [16] |
| Sukarno | 1901 | 1970 | Aktivis kemerdekaan yang membacakan Proklamasi Kemerdekaan, Presiden Indonesia pertama | 2012 | Jawa Timur | [h][97][98] |
| Sultan Agung | 1591 | 1645 | Sultan Mataram, melakukan perlawanan terhadap VOC | 1975 | D.I. Yogyakarta | [3][136] |
| Andi Sultan Daeng Radja | 1894 | 1963 | Aktivis kemerdekaan dan politisi | 2006 | Sulawesi Selatan | [3][137] |
| Supeno | 1916 | 1949 | Menteri pemerintahan, terbunuh ketika perlawanan terhadap Belanda saat Revolusi Nasional | 1970 | Jawa Tengah | [4][138] |
| Supomo | 1903 | 1958 | Menteri Kehakiman Pertama, membantu penulisan Konstitusi | 1965 | Jawa Tengah | [4][139] |
| Suprapto | 1920 | 1965 | Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September | 1965 | Jawa Tengah | [4][140] |
| Supriyadi | 1925 | 1945 | Pemimpin pemberontakan melawan pasukan pendudukan Jepang di Blitar | 1975 | Jawa Timur | [k][3][141] |
| Suroso | 1893 | 1981 | Politisi dan aktivis kemerdekaan | 1986 | Jawa Timur | [3][142] |
| Suryo | 1896 | 1948 | Gubernur Jawa Timur saat Revolusi Nasional | 1964 | Jawa Timur | [4][143] |
| Suryopranoto | 1871 | 1959 | Pengajar dan tokoh hak asasi pekerja, saudara Ki Hajar Dewantara | 1959 | D.I. Yogyakarta | [4][144] |
| Sutan Syahrir | 1909 | 1966 | Politisi, Perdana Menteri Indonesia pertama | 1966 | Sumatera Barat | [4][145] |
| Soetomo | 1888 | 1938 | pengajar Jawa, mendirikan Budi Utomo | 1961 | Jawa Timur | [l][4][146] |
| Sutomo | 1920 | 1981 | Pemimpin militer yang memimpin perlawanan dalam Pertempuran Surabaya | 2008 | Jawa Timur | [m][3][147] |
| Sutoyo Siswomiharjo | 1922 | 1965 | Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September | 1965 | Jawa Tengah | [4][148] |
| Syafruddin Prawiranegara | 1911 | 1989 | Gubernur Bank Indonesia pertama | 2011 | Banten | [13] |
| Syarif Kasim II | 1893 | 1968 | Sultan Siak, menawarkan integrasi kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur | 1998 | Riau | [3][138] |
| Tahi Bonar Simatupang | 1920 | 1990 | Jenderal yang menjabat sebagai ketua staff dari 1950 sampai 1954 | 2013 | Sumatera Utara | [85] |
| Tuanku Tambusai | 1784 | 1882 | Pemimpin Islam dari Riau yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda saat Perang Padri | 1995 | Riau | [3][149] |
| Tan Malaka | 1884 | 1949 | Politisi dan aktivis komunis Minang | 1963 | Sumatera Barat | [4][150] |
| Thaha Syaifuddin | 1816 | 1904 | Sultan Jambi, memimpin pasukan revolusi melawan pasukan kolonial Belanda | 1977 | Jambi | [3][151] |
| Tirtayasa | 1631 | 1683 | Gerilyawan dari Banten yang melakukan perlawanan terhadap Belanda | 1970 | Banten | [4][152] |
| Tirto Adhi Suryo | 1880 | 1918 | Jurnalis, diasingkan karena editorial anti-Belanda buatannya | 2006 | Jawa Tengah | [3][153] |
| Teuku Umar | 1854 | 1899 | Pemimpin gerilyawan Aceh yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda; suami Cut Nyak Dhien | 1973 | Aceh | [4][154] |
| Untung Surapati | 1660 | 1706 | Memimpin beberapa pemberontakan melawan VOC | 1975 | Jawa Timur | [3][155] |
| Urip Sumoharjo | 1893 | 1948 | Pemimpin Angkatan Darat Indonesia, komandan kedua setelah Sudirman | 1964 | Jawa Tengah | [4][156] |
| Wage Rudolf Supratman | 1903 | 1938 | Komposer lagu kebangsaan "Indonesia Raya" | 1971 | DKI Jakarta | [4][157] |
| Wahid Hasyim | 1914 | 1953 | Pemimpin Nahdlatul Ulama, Menteri Agama Indonesia pertama | 1964 | Jawa Timur | [4][158] |
| Wahidin Sudirohusodo | 1852 | 1917 | Doktor dan pemimpin di Budi Utomo | 1973 | D.I. Yogyakarta | [4][159] |
| Wilhelmus Zakaria Johannes | 1895 | 1952 | Pelopor pengobatan radiologi | 1968 | Nusa Tenggara Timur | [4][160] |
| Yos Sudarso | 1925 | 1962 | Komodor Angkatan Laut, terbunuh saat konfrontasi dengan Belanda di Nugini Belanda | 1973 | Jawa Tengah | [4][161] |
| Yusuf Tajul Khalwati | 1626 | 1699 | Pemimpin Islam, memimpin pemberontakan gerilyawan melawan VOC | 1995 | Sulawesi Selatan | [3][162] |
| Zainal Mustafa | 1907 | 1944 | Pemimpin Islam yang melakukan perlawanan terhadap pasukan pendudukan Jepang | 1972 | Jawa Barat | [4][163] |
| Zainul Arifin | 1909 | 1963 | Politisi dan gerilyawan, terbunuh saat peristiwa percobaan pembunuhan yang ditargetkan kepada Sukarno | 1963 | Sumatera Utara | [4][164] |
Langganan:
Postingan (Atom)