Selasa, 18 April 2017

Agama hindu dinusantara

Agama Hindu di Nusantara


Sejarah

Penduduk asli Kepulauan Nusantara mempraktikkan agama asli animisme dan dinamisme, keyakinan yang umum bagi orang-orang Austronesia. Pribumi Nusantara menghormati dan memuja roh leluhur; mereka juga meyakini bahwa sukma dapat menghuni tempat-tempat tertentu seperti pohon-pohon besar, batu, hutan, pegunungan, atau tempat suci. Entitas tak terlihat yang memiliki kekuatan supernatural ini diidentifikasi oleh suku Jawa tradisional dan suku Bali sebagai "hyang" serta oleh suku Dayak sebagai "sangiang" yang dapat berarti "ilahi" atau "leluhur". Dalam bahasa Indonesia modern, "hyang" cenderung dikaitkan dengan Tuhan, terlebih setelah era Orde Baru.

Kedatangan agama Hindu dan Buddha di Nusantara

Prambanan, Candi Siwa terbesar abad ke-9 dan candi agama Hindu terbesar di Nusantara.
Pengaruh agama Hindu mencapai Kepulauan Nusantara sejak abad pertama. Ada beberapa teori tentang bagaimana Hindu mencapai Nusantara. Teori Vaishya adalah bahwa perkawinan terjadi antara pedagang Hindustan dan penduduk asli Nusantara. Teori lain (Kshatriya) berpendapat bahwa para prajurit yang kalah perang dari Hindustan menemukan tempat pelipur lara di Nusantara. Ketiga, teori para Brahmana mengambil sudut pandang yang lebih tradisional, bahwa misionaris menyebarkan agama Hindu ke pulau-pulau di Nusantara. Terakhir, teori oleh nasionalis (Bhumiputra) bahwa para pribumi Nusantara memilih sendiri kepercayaan tersebut setelah perjalanan ke Hindustan.[2] Pada abad ke-4, Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, Tarumanagara di Jawa Barat, dan Kalingga di Jawa Tengah, termasuk di antara Kerajaan Hindu awal yang didirikan di wilayah Nusantara. Beberapa kerajaan Hindu kuno Nusantara yang menonjol adalah Mataram, yang terkenal karena membangun Candi Prambanan yang megah, diikuti oleh Kerajaan Kediri dan Singhasari. Sejak itu Agama Hindu bersama dengan Buddhisme menyebar di seluruh nusantara dan mencapai puncak pengaruhnya pada abad ke-14. Kerajaan yang terakhir dan terbesar di antara kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha Jawa, Majapahit, menyebarkan pengaruhnya di seluruh kepulauan Nusantara.

Kepercayaan dan praktik umum

Acintya adalah Dewa Tertinggi dalam agama Hindu Bali.
Praktisi Agama Hindu Dharma di Indonesia sama-sama berbagi banyak keyakinan Hindu yang umum seperti :
  • Sebuah keyakinan dalam satu keberadaan Maha tinggi yang disebut "Ida Sang Hyang Widhi Wasa", "Sang Hyang Tunggal", atau "Sang Hyang Acintya". Tuhan Yang Maha Esa dalam budaya suku Toraja dari Sulawesi Tengah dikenal sebagai "Puang Matua" di keyakinan Aluk To Dolo.
  • Sebuah keyakinan bahwa semua dewa adalah manifestasi dari keberadaan tertinggi tersebut. Kepercayaan ini sama dengan keyakinan Smartha Sampradaya, yang juga menyatakan bahwa berbagai bentuk Dewa seperti Brahma, Wisnu, Siwa adalah aspek-aspek yang berbeda dari keberadaan Maha tinggi yang sama tersebut. Dewa Siwa juga dipuja dalam bentuk lain seperti halnya "Bhatara Guru" dan "Maharaja Dewa" (Mahadewa) diidentifikasikan erat dengan Matahari dalam bentuk lokal Hindu atau Kebatinan, dan bahkan dalam dongeng jin Muslim.[3]
  • Sebuah keyakinan tentang Trimurti, yang terdiri dari :
    • Brahma, sebagai sang pencipta
    • Vishnu atau Wisnu, sebagai sang pemelihara
    • Çiwa atau Siwa, sebagai sang pelebur (kadang pula perusak/penghancur)
  • Sebuah keyakinan tentang semua Dewa-Dewi Hindu lainnya (Hyang, Dewata dan Batara-Batari)
Kitab suci yang ditemukan di Agama Hindu Dharma adalah Weda. Kitab ini adalah dasar agama Hindu Bali. Sumber-sumber informasi keagamaan lainnya juga termasuk Purana dan Itihasa (terutama naskah Ramayana dan Mahabharata).
Salah satu perhatian yang utama tentang kepantasan dalam agama Hindu adalah konsep kemurnian ritual. Corak penting lain yang membedakan, yang secara tradisional membantu menjaga kemurnian ritual, adalah pembagian masyarakat ke dalam kelompok-kelompok pekerjaan tradisional, atau "varna" agama Hindu: Brahmana (pendeta), Kshatriya (penguasa-prajurit, "satriya" atau "Deva"[4] dalam bahasa Indonesia) , Vaishya (pedagang-petani, "waisya" dalam bahasa Indonesia) , dan Shudra (jelata-buruh, "sudra" dalam bahasa Indonesia). Seperti Islam dan Buddha, agama Hindu di Nusantara juga telah sangat dimodifikasi karena menyesuaikan dengan masyarakat Nusantara.
Sistem kasta, meskipun hadir dalam bentuk, tidak pernah secara kaku diterapkan di Nusantara. Epos Mahabharata (Pertempuran Besar dari Keturunan Bharata) dan Ramayana (Perjalanan Rama), menjadi tradisi abadi di antara umat Hindu di Nusantara, dinyatakan dalam kesenian wayang kulit dan seni tari.
Pemerintah Indonesia telah mengakui Hindu sebagai salah satu dari enam agama monoteistik resmi, bersama dengan Islam, Protestan, Katolik, Buddha, Hindu atau Konghucu).[5] Namun pemerintah Indonesia tidak mengakui sistem kepercayaan suku adat sebagai agama resmi. Akibatnya, pengikut berbagai agama animisme asli seperti Dayak Kaharingan telah mengidentifikasikan diri mereka sebagai Hindu untuk menghindari tekanan untuk masuk Islam atau Kristen. Beberapa keyakinan suku adat asli seperti Sunda Wiwitan dari suku Sunda, Aluk To Dolo suku Toraja, dan Parmalim dari suku Batak - meskipun berbeda dari agama Hindu Bali yang dipengaruhi Hindustan - mungkin mencari afiliasi dengan agama Hindu untuk bertahan hidup, sementara di saat yang sama juga mencoba melestarikan perbedaan mereka terhadap aliran utama Hindu Indonesia yan didominasi oleh suku Bali. Selain itu, kaum nasionalis Indonesia juga telah sangat mengangkat prestasi Kerajaan Majapahit; sebuah Kerajaan Hindu yang telah membantu menarik orang-orang Indonesia modern kepada agama Hindu. Faktor-faktor ini telah menyebabkan kebangkitan Hindu yang perlahan di luar Bali.

Hindu Nusantara

Agama Hindu di Bali

Persembahan di Pura Hindu Bali.
Agama Hindu Dharma di Bali adalah agama yang sangat terjalin dengan seni dan ritual, dan lebih tidak ketat diatur oleh kitab suci, hukum, dan keyakinan. Agama Hindu Bali tidak memiliki penekanan tradisional agama Hindu pada siklus kelahiran kembali dan reinkarnasi, melainkan berkaitan dengan banyak sekali "hyang", sukma leluhur. Seperti halnya kebatinan, dewa-dewi ini dianggap mampu melahirkan kebaikan atau merugikan. Masyarakat Hindu di Bali sangat menekankan ritual-ritual perdamaian yang dramatis dan estetis terhadap para "hyang". Ritual-ritual ini dilakukan di situs-situs candi dan pura yang tersebar di seluruh desa dan di pedesaan.
Tempat bersembahyang atau kuil di agama Hindu Bali disebut Pura, dan tidak seperti mandir gaya Hindustan yang menjulang tinggi dengan ruang interior, kuil Bali dirancang sebagai tempat bersembahyang di udara terbuka dalam dinding tertutup, dihubungkan dengan serangkaian gerbang yang dihiasi secara rumit untuk mencapai bagian ruang terbukanya. Masing-masing kuil ini memiliki keanggotaan yang kurang lebih tetap; dimana setiap orang Bali adalah bagian dari sebuah kuil berdasarkan keturunan, tempat tinggal, atau wahyu mistis. Beberapa kuil juga terdapat dalam rumah keluarga (juga disebut "banjar" di Bali), yang lain terletak di sawah, dan yang lain terletak di lokasi geografis yang terkenal (tebing pantai, gunung, dsb).
Ritualisasi tindakan mengendalikan diri (atau ketiadaan) adalah corak penting dari ekspresi keagamaan di kalangan masyarakat Hindu Bali, yang karena alasan ini telah menjadi terkenal karena perilaku anggun dan sopan mereka. Misalnya salah satu upacara penting di sebuah kuil Hindu di desa memiliki penampilan spesial sendratari (seni drama-tari), pertempuran antara mitos karakter Rangda sang penyihir (mewakili adharma, seperti ketiadaan keteraturan) dan Barong sang pelindung (umumnya seperti singa, mewakili dharma), di mana para pemain mengalami kerasukan dan mencoba menusuk diri dengan senjata tajam (umumnya keris). Drama-tari ini umumnya tampak selesai tanpa akhir, tidak ada pihak yang menang, karena tujuan utamanya adalah untuk mengembalikan keseimbangan.
Ritual siklus kehidupan juga merupakan alasan penting bagi ekspresi keagamaan dan tampilan artistik di warga Hindu Bali. Upacara saat pubertas, pernikahan, dan , terutama kremasi pada saat kematian memberikan kesempatan bagi warga Hindu Bali untuk mengkomunikasikan ide-ide mereka tentang masyarakat, status, dan alam baka. (Industri pariwisata tidak hanya telah mendukung adanya upacara kremasi yang spektakuler di kalangan warga Bali yang sederhana, tetapi juga telah menciptakan permintaan yang lebih besar untuk upacara tersebut.)
Seorang pendeta Hindu tidak berafiliasi dengan kuil Hindu manapun, tetapi bertindak sebagai pemimpin spiritual dan penasehat setiap keluarga di berbagai desa yang tersebar di pulau Bali. Pendeta Hindu ini dikonsultasi disaat upacara yang memerlukan air suci dilakukan. Pada kesempatan lain, juru sembuh atau pengobat tradisional dapat disewa.
Agama Hindu Bali juga meliputi keyakinan agama Tabuh Rah, sabung ayam bersifat keagamaan di mana ayam jago digunakan dalam adat keagamaan dengan memungkinkannya bertarung melawan ayam jago lain dalam sebuah upacara sabung ayam keagamaan Hindu Bali, sebuah bentuk persembahan hewan. Pertumpahan darah dalam Tabuh Rah diperlukan sebagai pemurnian untuk menenangkan roh-roh jahat bhuta dan kala, dan dan untuk memohon hasil panen yang baik. Ritual sabung ayam ini biasanya berlangsung di luar kuil Hindu dan juga mengikuti ritual yang kuno dan kompleks sebagaimana tercantum dalam naskah lontar Hindu suci.[6]

Agama Hindu di Jawa

Baik Pulau Jawa dan Sumatra telah tunduk pada pengaruh budaya yang besar dari sub benua India selama milenium pertama dan kedua era Masehi. Bukti-bukti paling awal dari pengaruh Hindu di Jawa dapat ditemukan dalam prasasti abad ke-4 Tarumanagara yang tersebar di seluruh Jakarta modern dan Bogor. Pada abad ke-6 dan abad ke-7 banyak kerajaan maritim muncul di Sumatera dan Jawa yang menguasai perairan di Selat Malaka dan berkembang dengan meningkatnya perdagangan laut antara Tiongkok dan Hindustan dan selewatnya. Selama periode ini, cendekiawan-cendekiawan dari Hindustan dan Tiongkok mengunjungi kerajaan-kerajaan maritim tersebut untuk menerjemahkan teks-teks sastra dan agama.
Dari abad ke-4 sampai abad ke-15 kerajaan Hindu bangkit dan jatuh di Jawa: Tarumanagara, Kalingga, Medang, Kerajaan Kediri, Kerajaan Sunda, Singhasari dan Majapahit. Era ini dikenal sebagai Era Klasik Jawa, di mana sastra, seni dan arsitektur Hindu-Buddha berkembang dan menjadi masuk ke dalam budaya lokal Nusantara di bawah perlindungan keraton Hindu Jawa. Selama periode ini, banyak kuil Hindu Jawa dibangun, termasuk Candi Prambanan abad ke-9 di dekat Kota Yogyakarta, yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia.
Di antara kerajaan-kerajaan Hindu Jawa, yang paling dianggap penting adalah Majapahit, yang merupakan kerajaan terbesar dan kerajaan Hindu terakhir yang signifikan dalam sejarah Indonesia. Majapahit berpusat di Jawa Timur, memerintah sebagian besar dari apa yang sekarang merupakan Indonesia modern dari sana. Sisa-sisa kerajaan Majapahit bergeser ke Bali pada abad ke-16 setelah dihancurkan oleh negara-negara Islam di wilayah pesisir Jawa.[7]
Hindu Jawa telah memiliki dampak yang signifikan dan meninggalkan jejak yang jelas dalam seni dan budaya suku Jawa. Pertunjukan wayang serta tarian Wayang Wong dan tarian klasik Jawa lainnya yang berasal dari epos Hindu Ramayana dan Mahabharata. Meskipun mayoritas orang Jawa sekarang mengidentifikasikan diri sebagai Muslim, bentuk seni Hindu Jawa tersebut masih bertahan. Hindu Jawa telah bertahan dalam berbagai tingkat dan bentuk di Jawa; dalam beberapa tahun terakhir, konversi ke agama Hindu telah meningkat, terutama di daerah yang mengelilingi sebuah situs besar agama Hindu Jawa, seperti wilayah Klaten di dekat Candi Prambanan. Kelompok etnis suku adat tertentu, seperti suku Tengger dan suku Osing, juga terkait dengan tradisi keagamaan Hindu Jawa.

Hindu di tempat lain di Nusantara

Di antara masyarakat non-Bali yang dianggap termasuk pemeluk Hindu oleh pemerintah Indonesia, misalnya adalah para penganut agama suku Dayak, Kaharingan di Kalimantan Tengah, di mana statistik pemerintah mencatat pemeluk Hindu Kaharingan sejumlah 15,8 % dari total populasi pada 1995. Secara nasional, di awal 1990-an pemeluk Hindu di Indonesia hanya mewakili sekitar 2 % dari populasi.
Banyak orang dari suku Manusela dan suku Nuaulu dari Pulau Seram memeluk kepercayaan Naurus, sinkretisme agama Hindu dengan unsur-unsur animisme dan Kristen Protestan. Demikian pula, suku Toraja di Tana Toraja, Sulawesi telah mengidentifikasikan agama animisme mereka sebagai Hindu.
Suku Batak di Sumatera telah mengidentifikasikan tradisi animisme Parmalim mereka dengan Hindu .
Warga Tamil di Sumatera dan India di Jakarta mempraktikkan bentuk Hindu mereka sendiri, yang mirip dengan Hindu India. Orang India merayakan hari raya Hindu yang lebih umum ditemukan di India, seperti Deepawali.[8]
Kepercayaan Bodha suku Sasak di Pulau Lombok adalah non-Muslim; agama mereka merupakan perpaduan Hindu dan Buddha dengan animisme, kepercayaan ini dianggap termasuk ke dalam agama Buddha oleh pemerintah Indonesia.

Hari Raya agama Hindu di Indonesia

Simbol "Om" dalam agama Hindu Dharma Bali.
Hari Raya Galungan - Galungan terjadi setiap 210 hari dan berlangsung selama 10 hari. Hari raya ini merayakan kedatangan para dewa dan hyang (leluhur) ke bumi untuk tinggal lagi di rumah keturunan mereka. Perayaan ditandai dengan persembahan, tarian dan pakaian baru. Para hyang harus terhibur dan disambut secara layak, dan doa-doa dan persembahan harus dipersembahkan untuk mereka. Keluarga-keluarga yang para leluhurnya belum dikremasi, tetapi masih dimakamkan di pemakaman desa, harus membuat persembahan di kuburan mereka. Kuningan adalah hari terakhir liburan ini, ketika para dewa dan hyang berangkat pergi hingga hari raya Galungan berikutnya.
Hari Raya Saraswati - Saraswati adalah dewi pengetahuan, sains, dan sastra. Dia menguasai dunia intelektual dan kreatif, dan merupakan dewi pelindung perpustakaan dan sekolah. Pemeluk Hindu Bali percaya bahwa pengetahuan adalah media penting untuk mencapai tujuan hidup sebagai manusia, dan begitu menghormati Dewi Saraswati. Dia juga dirayakan karena berhasil menjinakkan pikiran yang selalu mengembara dan penuh nafsu dari kekasihnya, Brahma, yang disibukkan oleh dewi eksistensi material, Shatarupa. Pada hari tersebut, tidak ada yang diperbolehkan untuk membaca atau menulis, dan persembahan dilakukan kepada lontar (naskah lontar), buku , dan kuil-kuil.
Hari Saraswati diperingati setiap 210 hari pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung dan menandai awal tahun baru menurut kalender Pawukon Bali. Upacara dan doa-doa diadakan di kuil-kuil di halaman keluarga, desa dan tempat bisnis dari pagi sampai tengah hari . Doa-doa juga diadakan di sekolah atau kuil Hindu lainnya di sekolah. Guru dan siswa tidak mengenakan seragam biasa, namun gaun upacara cerah yang berwarna-warni, mengisi pulau Bali dengan aneka warna. Anak-anak membawa bebuahan dan kue tradisional ke sekolah sebagai persembahan di kuil Saraswati.[9]
Hari Raya Nyepi - Nyepi adalah hari keheningan Hindu atau Tahun Baru Hindu dalam kalender Saka Bali. Perayaan terbesar diadakan di Bali maupun di masyarakat Hindu Bali di tempat lain di Indonesia. Pada malam tahun baru desa dibersihkan, berbagai masakan dimasak selama dua hari dan di malam hari sebanyak mungkin kebisingan dibuat untuk menakut-nakuti roh jahat. Pada hari berikutnya, umat Hindu Bali tidak meninggalkan rumah mereka, memasak atau melakukan kegiatan apapun. Jalan-jalan sepi, dan wisatawan tidak diperbolehkan untuk meninggalkan kompleks hotel.
Hari Nyepi ditentukan dengan menggunakan kalender Bali (lihat di bawah), hari Nyepi jatuh pada malam bulan baru setiap kali terjadi sekitar bulan Maret / April setiap tahunnya. Oleh karena itu, tanggal Hari Nyepi berubah setiap tahunnya, dan tidak ada jumlah konstan perbedaan hari antara masing-masing Nyepi seperti Galungan atau Kuningan. Untuk mengetahui kapan Nyepi jatuh pada tahun tertentu, dibutuhkan informasi tentang siklus bulan dalam tahun tersebut. Setiap kali bulan baru terjadi di antara pertengahan Maret dan pertengahan April, malam tersebut akan menjadi malam kegiatan besar dan pengusiran roh jahat di seluruh pulau Bali, sedangkan hari berikutnya akan menjadi hari damai dan tenang total, di mana segala sesuatu berhenti selama sehari .

Perkembangan dan pengakuan

Konteks politik

Walaupun banyak orang Jawa yang mempertahankan aspek tradisi adat dan Hindu Jawa mereka melewati berabad-abad pengaruh Islam di bawah bendera "agama Kejawen" atau juga "Islam Jawa" non-ortodoks (abangan),[10], hanya sebagian kecil dari masyarakat Jawa yang terisolasi lah yang secara konsisten menegakkan Hindu Jawa sebagai tanda utama dari identitas publik mereka. Salah satu yang termasuk dari masyarakat adat kecil ini adalah orang-orang pelosok suku Tengger yang tinggal di dataran tinggi Tengger di Provinsi Jawa Timur.[11]

Pengakuan resmi

Mengakui agama seseorang sebagai Hindu secara resmi tidaklah mungkin secara hukum di Indonesia hingga tahun 1962, ketika agama Hindu menjadi agama ke-5 yang diakui negara. Pengakuan ini awalnya diperjuangkan oleh organisasi-organisasi keagamaan Bali dan diberikan demi warga Bali yang mayoritasnya adalah pemeluk agama Hindu. Yang terbesar dari organisasi-organisasi ini adalah Parisada Hindu Dharma Bali, berubah nama menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) pada tahun 1964, yang mencerminkan upaya-upaya selanjutnya untuk mendefinisikan Hindu tidak hanya sebagai kepentingan Bali tetapi juga nasional.[12]
Identitas agama menjadi isu hidup dan mati bagi banyak orang Indonesia di sekitar waktu yang sama saat agama Hindu akhirnya mendapat pengakuan, ketika peristiwa pembantaian komunis 1965-1966 terjadi. Orang yang tidak mengafiliasikan diri dengan salah satu agama yang diakui negara cenderung dicurigai sebagai komunis.[13] Meskipun mendapat banyak ketidakuntungan bila bergabung dengan agama minoritas nasional, keprihatinan yang mendalam bagi pelestarian agama leluhur tradisional mereka membuat beberapa kelompok etnis di luar pulau membuat Hindu sebagai pilihan yang lebih cocok selain Islam.
Pada awal tahun 1970-an, orang-orang suku Toraja dari Sulawesi adalah yang pertama untuk mewujudkan kesempatan tersebut dengan mencari perlindungan bagi agama nenek moyang pribumi mereka di bawah payung 'Hindu' Indonesia yang besar, diikuti oleh suku Karo dari Sumatera pada tahun 1977.[14]
Di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, sebuah gerakan Hindu besar telah berkembang di kalangan penduduk suku Dayak pribumi setempat yang mengarah ke sebuah deklarasi massal 'Hindu' di pulau ini pada tahun 1980. Namun, konversi ke 'Hindu' tersebut mengikuti pembagian etnis yang jelas. Adat Dayak pribumi berhadapan dengan populasi migran yang sebagian besar Muslim yang disponsori pemerintah (terutama suku Madura), dan sangat tidak menyukai perampasan tanah dan sumber daya alam nenek moyang mereka. Dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di pemeluk Hindu Jawa, banyak pemimpin suku Dayak pribumi yang juga lebih prihatin terhadap upaya Parisada Hindu Dharma Bali untuk membakukan praktik ritual Hindu secara nasional, khawatir hal ini akan berimbas pada berkurangnya tradisi unik 'Hindu Kaharingan' mereka sendiri dan dominasi budaya asing yang semakin panjang.
Sebaliknya, kebanyakan orang Jawa lambat dalam mempertimbangkan Hindu pada saat itu, tidak mempunyai organisasi jelas dalam hal agama secara etnis karena takut adanya pembalasan dari organisasi Islam Jawa yang kuat secara lokal seperti Nahdatul Ulama (NU). Sayap pemuda NU telah aktif dalam penganiayaan, tidak hanya bagi para terduga komunis tetapi juga elemen 'Kejawen' atau 'anti-Islam' dalam Partai Nasionalis Indonesia (PNI) Soekarno selama fase awal dari pembantaian komunis berdarah 1965-1966.[11] Sehingga para praktisi tradisi mistis 'Kejawen' merasa terpaksa menyatakan diri mereka sebagai Muslim karena kekhawatiran terhadap keselamatan mereka.

Era Orde Baru

Pertimbangan para praktisi 'Kejawen' untuk meninggalkan tradisi mereka demi bertahan hidup di sebuah negara Islam segera terbukti tidak benar. Penerus Presiden Soekarno, Soeharto, mengadopsi pendekatan nonsektarian (non-agama) yang jelas dalam apa yang disebutnya era Orde Baru. Namun ketakutan lama mereka muncul kembali kala Soeharto secara resmi merangkul Islam pada 1990-an. Awalnya Soeharto adalah pembela kuat nilai-nilai tradisi 'Kejawen', namun Soeharto mulai membuat penawaran-penawaran pada kaum Muslim pada waktu itu, karena goyahnya dukungan publik dan militer pada pemerintahannya.
Sebuah sinyal kuat untuk hal tersebut adalah otorisasi dan dukungan pribadi dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), sebuah organisasi baru yang para anggotanya secara terbuka mempromosikan Islamisasi negara dan masyarakat Indonesia.[15] Kekhawatiran mereka semakin tumbuh ketika ICMI menjadi faksi sipil yang dominan dalam birokrasi nasional Indonesia, dan memulai program-program pendidikan Islam dan masjid secara besar-besaran melalui Departemen Agama, sekali lagi membidik benteng-benteng tradisi 'Kejawen'. Sekitar waktu yang sama, terjadi serangkaian pembunuhan oleh massa Muslim ekstrimis terhadap orang-orang yang diduga mempraktikkan metode penyembuhan tradisional Jawa dengan cara magis. Dalam hal afiliasi politik, kebanyakan praktisi 'Kejawen' kontemporer dan pemeluk-pemeluk baru agama Hindu telah menjadi anggota PNI lama, kemudian bergabung dengan partai nasionalis baru Megawati Soekarnoputri, puteri dari Soekarno.

Konteks sosial

Kuil Hindu yang didirikan untuk menghormati Prabu Siliwangi di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Bogor, Jawa Barat.
Parisada Hindu Dharma berubah nama menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia pada tahun 1984, dipelopori oleh Gedong Bagus Oka, sebagai pengakuan atas pengaruh agama Hindu Nusantara terhadap Indonesia.
Sebuah corak yang umum di antara komunitas Hindu baru di Jawa adalah bahwa mereka cenderung terpusat di sekitar pura agama Hindu yang baru dibangun atau di sekitar situs candi arkeologi yang direklamasi sebagai tempat ibadah agama Hindu. Salah satu dari beberapa candi Hindu baru di Jawa Timur adalah Pura Mandaragiri Semeru Agung, yang terletak di lereng Gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa. Pura ini selesai dibangun pada bulan Juli 1992, dengan bantuan dana dari dermawan-dermawan Bali, dan perlahan mengembangkan jumlah masyarakat Hindu setempat di sekitar lokasi Pura tersebut. Perkembangan serupa juga terjadi di wilayah sekitar Pura Agung Blambangan, kuil baru lain yang dibangun di atas sebuah situs arkeologi kecil yang dikaitkan dengan kerajaan Blambangan, salah satu kerajaan Hindu terakhir di Jawa. Sebuah situs penting yang lain adalah Pura Loka Moksa Jayabaya di desa Menang dekat Kediri, di mana Jayabaya, seorang suci dan juga raja diyakini telah mencapai moksa.
Sebuah perkembangan lain dalam tahap awal dapat ditemukan di sekitar Pura Pucak Raung yang baru (di wilayah Glenmore di Banyuwangi, Jawa Timur), yang disebutkan dalam sastra Bali sebagai tempat di mana orang suci Hindu Maharishi Markandeya mengumpulkan pengikut untuk ekspedisi ke Bali, dimana ia dikatakan telah membawa agama Hindu ke pulau Bali pada abad ke-5 Masehi.
Sebuah contoh dari kebangkitan Hindu di sekitar situs arkeologi candi Hindu kuno juga ditemukan di Trowulan dekat Mojokerto. Situs ini diyakini sebagai lokasi ibu kota kerajaan Hindu-Buddha Majapahit. Di Trowulan, sebuah gerakan Hindu lokal berupaya untuk mendapatkan bangunan candi yang baru digali untuk dipulihkan sebagai tempat persembahyangan Hindu seperti dahulu kala. Candi tersebut akan didedikasikan untuk menghormati Gajah Mada, tokoh yang dikenal telah mengubah kerajaan Hindu Majapahit yang kecil menjadi sebuah kerajaan besar di Nusantara.
Di wilayah kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Candi Cetho abad ke-14 yang telah direnovasi di lereng Gunung Lawu telah menjadi pusat dari Hindu Jawa dan mendapat kunjungan dari keluarga kerajaan dan Hindu Bali. Sebuah candi baru sedang dibangun di bagian Timur Solo (Surakarta) Ini adalah candi Hindu yang memiliki miniatur dari 50 situs Hindu suci di seluruh dunia.[16] Ini juga merupakan pusat meditasi yoga kundalini, mengajar tradisi Jawa meditasi matahari dan air.
Meskipun di Jawa Timur telah ada sejarah yang lebih jelas tentang perlawanan terhadap Islamisasi, masyarakat Hindu juga berkembang di Jawa Tengah,[11] misalnya di Klaten, di dekat Candi Hindu kuno Prambanan. Hari ini Candi Prambanan menggelar berbagai upacara Hindu tahunan dan festival seperti Galungan dan Nyepi.
Di Jawa Barat, Pura Parahyangan Agung Jagatkarta dibangun di lereng Gunung Salak di dekat lokasi bersejarah ibu kota Kerajaan Sunda Galuh, Pakuan Pajajaran di Bogor. Candi ini dijuluki sebagai candi Hindu Bali terbesar yang pernah dibangun di luar Bali, dimaksudkan sebagai candi utama bagi penduduk Hindu Bali di wilayah Jabodetabek. Namun, karena candi ini berdiri di tempat suku Sunda yang suci, dan juga menjadi tempat persemayaman sebuah kuil untuk menghormati raja Sunda yang terkenal, Prabu Siliwangi, situs ini telah mendapatkan popularitas di kalangan penduduk setempat yang ingin menghubungkan diri kembali dengan nenek moyang mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar